Kontrak Usaha Pemanfaatan Wisata Alam pada Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung Rinjani Barat

  • Muhammad Rifqi Tirta Mudhofir Bogor Agricultural University
  • Bramasto Nugroho Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680
  • Sudarsono Soedomo Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680

Abstract

Partnership in natural tourism utilization of protected forests area can increase the forests value, but also has a risk of damage to forest areas managed by KPHL Rinjani West (FMU). The relationship between FMU and partners can be seen as a principal-agent relationship that may have problems as adverse selection, asymmetric information, moral hazard and agency costs. The results of policy analysis, field observation, and in-depth interviews with related parties indicate that some policies provide different partnership schemes with its own advantages. Benefit by each party needs to be followed by appropriate role in partnership. Increased revenues and changes in the beneficiary system can raise potential revenue for KPH and partners.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Astana, S., M.Z. Muttaqin, N. Parlinah, Indartik. 2007. Analisis kebijakan sistem insentif bagi usaha kehutanan. Jurnal Analisis Kebijakan Kehutanan 4 (1), pp. 39 – 63.

Batari A., Y. Yusran, M.A.K. Sahide. 2017. Analisis tingkat keaktifan pengelolaan hutan desa labbo. Jurnal Hutan dan Masyarakat 9 (1), pp. 54-60.

Dritasto A., A. Anggreini. 2013. Analisis dampak ekonomi wisata bahari terhadap pendapatan masyarakat di pulau tidung. Reka Loka 1 (1), pp. 1-8.

Effendi H., 2015. Izin lingkungan (tak) memperpanjang birokrasi? Jakarta 13-15 Oktober 2015. Jakarta: BPK

Eggertsson T., 1999. Economic Behaviour and Institutions. Cambridge University Press, Cambridge.

Eisenhardt K.M., 1989. Agency theory: an assessment and review. Academy of Management Review 14 (1), pp. 57 – 74.

Elo S., H. Kyngas, 2008. The qualitative content analysis process. Journal of Advanced Nursing. 62 (1), pp. 107–115. doi: 10.1111/j.1365-2648.2007.04569.x

Fachrudin K.A., 2011. Analisis pengaruh struktur modal, ukuran perusahaan, dan agency cost terhadap kinerja perusahaan. Jurnal Akutansi dan Keuangan 13 (1), pp.37-46.

Firman F., A. Rizali, F. Razie, T. Hidayat, 2017. Model pengelolaan cagar alam teluk adang dalam upaya konservasi sumberdaya lingkungan di kabupaten paser kalimantan timur. EnviroScienteae 13 (2), pp.122 – 127.

Hajrah, H. Kartodihardjo, B. Nugroho,2015. Efektivitas tenaga teknis penguji kayu bulat dalam penatausahaan hasil hutan (studi kasus hutan alam kalimantan tengah). Risalah Kebijakan Pertanian dan Lingkungan 2 (3), pp.191-201.

Hallagan W., 1978. Self-selection by contractual choice and the theory of sharecropping. The Bell Journal of Economics 9(2), pp.344-354.

Harrington W., R. Morgenstern, 2004. Economic incentives versus command and control: what’s the best approach for solving environmental problems?. Acid in the Environment, pp. 233-240.

Hermantyo D., 2010. Pemekaran daerah dan konflik keruangan: kebijakan otonomi daerah dan implementasinya di indonesia. Makara Sains 11 (1), pp. 16-22.

Hoffman J.V., M.B. Wilson, R.A. Martinez, M. Sailors, 2011. Content analysis: the past, present and future. Dalam: Duke NK, Mallette, editor. Literacy Research Methodologies. Second Edition.. The Guilford Press, New York.

Jensen M.C., W.H. Meckling, 1976. Theory of the firm: managerial behavior, agency costs, and ownership structure. Journal of Financial Economics. 3, pp. 305-360.

Kartodihardjo H., G. Nagara, A.W. Situmorang, 2015. Transaction cost of forest utilization licenses: institutional issues. Jurnal Manajemen Hutan Tropika 21 (3), pp. 184 – 191. DOI: 10.7226/jtfm.21.3.184

Kasper W., M.W. Streit, P.J. Boettke, 2012. Institutional economics: property, competition policies. Edward Elgar Publishing Limited, Massachusetts.

[KPHL Rinjani Barat] Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung Rinjani Barat, 2015. KPH dalam upaya kemandirian pengelolaan. KPHL Rinjani Barat, Surabaya.

Kristinawati I, 2014. Pengaruh pengembangan wisata alam taman wisata alam gunung pancar terhadap perspektif sosial ekonomi. Disertasi. Sekolah Pascasarjana, Intitut Pertanian Bogor, Bogor.

Kuhaja T, 2014. Kajian kelembagaan dalam pengembangan pariwisata pantai yang berkelanjutan. Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota 10 (3), pp. 278 - 292.

Lamers M., R. Duim, J. Wijk, R. Nthiga, H.I.J. Visseren, 2014. Governing conservation tourism partnerships in Kenya. Annals of Tourism Research 48, pp. 250–265. http://dx.doi.org/10.1016/j.annals.2014.07.004

Lu F., Q. George, H.W. Niu, Zhang, 2015. Incentive contracts on tourism service quality under asymmetric information. Journal of China Tourism Research 11, pp. 402–423. DOI: 10.1080/19388160.2015.1110546.

Marin D., 2015. Study on the economic impact of tourism and of agrotourism on local communities. Research Journal of Agricultural Science 47 (4), pp.160 – 163.

Nugroho B., 2016. Kelembagaan, karakteristik sumberdaya, dan perilaku aktor: analisis kritis kebijakan pengelolaan hutan indonesia. Penerbit IPB Press, Bogor.

Nurita., 2016. Strategi pengembangan wisata alam penyu berbasis masyarakat lokal di pantai temajuk kabupaten sambas kalimantan barat. Tesis. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Oktora F.E., W. Pontoh, 2013. Analisis hubungan pendapatan asli daerah, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus atas belanja modal pada pemerintah daerah kabupaten tolitoli provinsi sulawesi tengah. Jurnal Accountability 1 (2), pp.1-10.

Pelealu A.M., 2013. Pengaruh dana alokasi khusus (DAK), dan pendapatan asli daerah (PAD) terhadap belanja modal pemerintah kota manado tahun 2003-2012. Jurnal EMBA 1 (4), pp. 1189-1197.

Prihadi N., 2010. Kelembagaan kemitraan industri pengolahan kayu bersama rakyat dalam rangka pembangunan hutan di pulau jawa. Disertasi. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor, Bogor.

Ridlwan Z., 2014. Urgensi badan usaha milik desa (BUMDES) dalam pembangunan perekonomian desa. Fiat Justisia Jurnal Ilmu Hukum 8 (3), pp.424 - 440.

Randle E.J., R. Hoy, 2016. Stakeholder perception of regulating commercial tourism in Victorian National Parks, Australia. Tourism Management 54, pp. 138- 149. http://dx.doi.org/10.1016/j.tourman.2015.11.002

Saito H., L., Ruhanen, 2017. Power in tourism stakeholder collaborations: power types and power holders. Journal of Hospitality and Tourism Management 31, pp. 189 - 196. http://dx.doi.org/10.1016/j.jhtm.2017.01.001.

Saputra R., 2015. Analisis dampak ekonomi wisata bahari terhadap pendapatan masyarakat lokal (studi kasus ombak bono sungai kampar kabupaten pelalawan Provinsi Riau). JOM FEKON 2(2), pp. 1-15.

Sasongko D.A., C. Kusmana, H. Ramadan, 2014. Strategi pengelolaan hutan lindung angke kapuk. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan 4 (1), pp.35 - 42.

Sayuti M., 2011. Pelembagaan badan usaha milik desa (bumds) sebagai penggerak potensi ekonomi desa dalam upaya pengentasan kemiskinan di kabupaten donggala. Jurnal Academica Fisip Untad 3(2), pp. 717 – 728.

Sembiring S., 2006. Pengembangan Sistem Hukum, Kebijakan dan Kelembagaan Pengelolaan Hutan Lindung. Technical Report. TBI – IHSA, Balikpapan.

Sidiki F., 2015. Menggali potensi lokal mewujudkan kemandirian desa. Jurnal Kebijakan & Administrasi Publik 19 (2), pp. 115 - 131.

Soedomo S., 2012. Jenis pungutan kehutanan dari perspektif ekonomi sumber daya alam. Jurnal Manajemen Hutan Tropika 18 (1), pp. 60–67. DOI: 10.7226/jtfm.18.1.60.

Steni B., 2016. Membedah UU pemerintahan daerah yang baru: apa yang baru dalam pembagian urusan dan kewenangan pusat-daerah di bidang sumber daya alam?. Institut Penelitian Inovasi Bumi (INOBU). [terhubung berkala]. http://earthinnovation.org/wp-content/uploads/2014/09/INOBU-Report-Membedah-UU-Pemerintahan-Daerah-yang-Baru.pdf. [11 juni 2017].

Sumarmi, Saptaningsih, 2010. Pengaruh Pendapatan Asli Daerah, Dana Alokasi Umum Dan Dana Alokasi Khusus Terhadap Alokasi Belanja Modal Daerah Kabupaten/Kota di Provinsi DI Yogyakarta. Disertasi. UPY (ID): Yogyakarta.. [terhubung berkala]. http://ekonomi.upy.ac.id/files/PENGARUH PENDAPATAN ASLI DAERAH, DANA ALOKASI UMUM, _SAPTANINGSIH SUMARMI_.pdf. [1 Oktber 2017].

Surkati A., 2012. Otonomi daerah sebagai instrumen pertumbuhan kesejahteraan dan peningkatan kerjasama antardaerah. Mimbar 28 (1), pp. 39-46.

Triana E., H.S. Alikodra, H. Sunarminto, A. Sudrajat. 2014. Kolaborasi konservasi di kawasan wisata ciwidey. Media Konservasi 19 (3), pp. 161 – 169.

Tuasikal A., 2008. Pengaruh DAU, DAK, PAD, dan PDRB terhadap belanja modal pemerintah daerah kabupaten/kota di Indonesia. Jurnal Telaah & Riset Akuntansi 1 (2), pp. 142-155.

Wibowo E., 2013. Pola kemitraan aantara petani tebu rakyat kredit (TRK) dan mandiri (TRM) dengan Pabrik Gula Modjopanggoong Tulungagung. Jurnal Manajemen Agribisnis 13(1), pp. 1-12.

Widodo M.L., R. Soekmadi, H.S. Arifin, 2018. Analisis stakeholders dalam pengembangan ekowisata di taman nasional betung kerihun kabupaten kapuas hulu. Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan 8 (1), pp. 55-61. doi: 10.29244/jpsl.8.1.55-61.

Wunder S., 2000. Ecotourism and economic incentives — an empirical approach. Ecological Economics 32: 465–479. https://Doi.Org/10.1016/S0921-8009(99)00119-6.

Yustika A.E., 2012. Ekonomi Kelembagaan Paradigma, Teori dan Kebijakan.Penerbit Erlangga, Jakarta.

Zhang D., P.H. Pearse, 2012. Forest Economics. UBC Press, Vancouver.

Published
2019-07-01
How to Cite
Mudhofir, M. R. T., Nugroho, B. and Soedomo, S. (2019) “Kontrak Usaha Pemanfaatan Wisata Alam pada Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung Rinjani Barat”, Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management), 9(2), pp. 419-436. doi: 10.29244/jpsl.9.2.419-436.