Sintesis Biokoagulan Berbasis Kitosan Limbah Sisik Ikan Bandeng dan Aplikasinya Terhadap Nilai BOD dan COD Limbah Tahu di Kota Tarakan

Biochoagulant Synthesis Based on Chitosan from Bandeng Fishing Waste and Its Application of Reduction of BOD and COD Value of Tofu Waste In Tarakan City

  • Stephanie Bija Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Borneo Tarakan
  • Yulma Yulma Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Borneo Tarakan
  • Imra Imra Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Borneo Tarakan
  • Aldian Aldian Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Borneo Tarakan
  • Akbar Maulana Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Borneo Tarakan
  • Anhar Rozi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Teuku Umar
Keywords: deproteinasi, derajat deasetilasi, koagulasi

Abstract

Biokoagulan merupakan koagulan alami yang berperan untuk mengikat kotoran yang terdapatdi dalam limbah tahu. Sumber biokoagulan dapat berasal dari kitosan sisik ikan bandeng. Penelitian ini menentukan penurunan nilai BOD dan COD pada limbah tahu melalui biokoagulasi kitosan dari limbahsisik ikan bandeng. Metode yang digunakan dalam pembuatan kitosan melalui tahap deproteinasi (NaOH 0,1 N selama 2 jam pada suhu 65℃), demineralisasi (HCl 1 N selama 30 menit pada suhu ruang), dan deasetilasi (NaOH 20% selama 1 jam pada suhu 121℃). Karakteristik kitosan berupa derajat deasetilasi memiliki nilai 44%. Aplikasi kitosan sebagai biokoagulan dilakukan dengan prinsip koagulasi-flokulasi dengan penambahan larutan kitosan pada konsentrasi 10 ppm, 20 ppm, dan 30 ppm pada limbah tahu. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan terhadap nilai BOD dan COD setelah penambahan kitosan 10 ppm, 20 ppm, dan 30 ppm. Perlakuan dengan penambahan kitosan 30 ppm merupakan perlakuan terbaik dengan nilai BOD yaitu 7 mg/L dan nilai COD yaitu 5600 mg/L.

References

Azhar M, Efendi J, Syofyeni E, Lesi RM, Sri N. 2010. Pengaruh konsentrasi NaOH dan KOH terhadap derajat deasetilasi kitin dari limbah kulit udang. EKSAKTA. 1(10):1-8.

Farihin FM, Wardhana IW, Sumiyati S. 2015. Studi penurunan COD, TSS, dan Turbidity dengan menggunakan kitosan dari limbah cangkang kerrang hijau (Perna viridis) sebagai biokoagulan
dalam pengolahan limbah cair PT.Sido Muncul Tbk, Semarang. Jurnal Teknik Lingkungan. 4(1):1-9.

Husin A. 2003. Pengolahan limbah cair industri tahu menggunakan biji kelor (Moringa oleifera seeds) sebagai koagulan. Laporan penelitian dosen muda, Fakultas Teknik USU. Medan.

Ifa L, Artiningsih A, Julniar, Suhaldin. 2018. Pembuatan kitosan dari sisik ikan kakap merah. Journal of Chemical Process Engineering. 3(1): 47-50.

Ihsani SL, Widyastuti CR. 2014. Sintetis biokoagulan berbasis kitosan dari kulit udang untuk pengolahan air sungai yang tercemar limbah industri jamu dengan kandungan padatan tersuspensi tinggi. Jurnal Bahan Alam Terbarukan. 3(2):3339.

Khiatuddin M. 2003. Melestarikan sumberdaya air dengan teknologi rawa buatan. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press.

Kumari S, Rath PK. 2014. Extraction and characterization of chitin and chitosan from (labeo rohit) fish scales. Procedia Materials Science. 6:482– 489.

Li A, Lin R, Lin C, He B, Zheng T, Lu L, Cao Y. 2016. An environment-friendly and multi-functional absorbent from chitosan for organic pollutants and heavy metal ion. Carbohydrate Polymers. 148: 272-280.

Meicahayanti I, Marwah, Setiawan Y. 2018. Efektivitas kitosan limbah kulit udang dan alum sebagai koagulan dalam penurunan TSS limbah cair tekstil. Jurnal Chemurgy. 2(1):1-5.

Muhajir MS. 2013. Penurunan limbah cair bod dan cod pada industri tahu menggunakan tanaman cattail (Typha angustifolia) dengan sistem constructed wetland. [skripsi]. Semarang (ID):
Universitas Negeri Semarang.

Mursida, Tasir, Sahriawati. 2018. Efektivitas larutan alkali pada proses deasetilasi dari berbagai bahan baku kitosan. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia. 21(2):356-366.

Muruganandam L, Kumar MPS, Jena A, Gulla S, Godhwani B. 2017. Treatment of waste water by coagulation and flocculation using biomaterials. IOP Conf. Series: Materials Science and Engineering. 263: 1-11.

Myrasandri P, Syafila M. 2012. Potensi pembentukan produk hasil degradasi senyawa organik limbah cair tahu menggunakan anaerobic baffled reactor lima kompartemen. Jurnal Teknik
Lingkungan. 18(1):75-86.

Nasution P, Sumiyati S, Wardana IW. 2015. Studi penurunan TSS, Turbidity, dan COD dengan menggunakan kitosan dari limbah cangkang keong sawah (Pila ampullacea) sebagai biokoagulan dalam
pengolahan limbah cair PT.Sido Muncul, Tbk Semarang. Jurnal Teknik Lingkungan. 4(1):1-10.

Prayudi T, Susanto JP. 2000. Chitosan sebagai bahan koagulan limbah cair industri tekstil. Jurnal Teknologi Lingkungan. 1(2): 121-125.

Protan Laboratories Inc. 1987. Protan Biopolymers. Norway [NO]: Protan Laboratories, Inc.

Ratnani RD. 2011. Kemampuan Kombinasi eceng gondok dan lumpur aktif untuk menurunkan pencemaran pada limbah cair industri tahu. Momentum. 8(1): 1-5.

Ratnawulan A, Noor E, Suptijah P. 2018. Pemanfaatan kitosan dalam daur ulang air sebagai aplikasi teknik produksi bersih. Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan
Indonesia. 21(2):276-286.

Renault F, Sancey B, Badot PM, Crini G. 2009. Chitosan for coagulation/flocculation processes – An eco-friendly approach. European Polymer Journal. 45: 1337-1348.

Ruhmawati, Sukandar T, Karmini D, Roni SR. 2017. Penurunan kadar total suspended solid (TSS) air limbah tahu dengan metode fitoremediasi. Jurnal Permukiman. 12(1):25-32.

Sinardi, Soewondo P, Notodarmojo S. 2013. Pembuatan karakterisasi dan aplikasi kitosan dari cangkang kerang hijau (Mytulus viridis linneaus) sebagai koagulan penjernih air. Konferensi
Nasional Teknik Sipil. 7: 33:38.

Suharto. 2011. Limbah Kimia dalam Pencemaran Udara dan Air. Yogyakarta (ID): ANDI.

Syamsumarsih D. 2011. Penggunaan biji asam jawa (Tumarindus Indoca L.) dan biji kecipir (Psophcarpus Tetragonolobus L.) sebagai koagulan alami dalam perbaikan
kualitas air tanah. [Skripsi]. Jakarta (ID): Universitas Islam Negeri Jakarta.

Wardhani K, Widyastuti, Hadiwidodo M, Sudarno. 2014. Khitin cangkang rajungan (Portunus pelagicus) sebagai biokoagulan untuk penyisihan turbidity, TSS, BOD dan COD pada pengolahan air limbah farmasi PT. Phapros Tbk, Semarang. Jurnal Teknik Lingkungan. 3(4): 1- 6.

Yudhistira B, Andriani M, Utami R. 2016. Karakterisasi limbah cair industri tahu dengan koagulan yang berbeda (asam asetat dan kalsium sulfat). Journal of Sustainable Agriculture. 31(2):137-145.

Yuliastri IR. 2010. Penggunaan serbuk biji kelor (Moringa oleifera) sebagai koagulan dan flokulan dalam perbaikan kualitas air limbah dan air tanah. [Tesis ]. Jakarta (ID): Universitas Islam Negeri Jakarta.
Published
2020-04-30