The Polarization of Orientation on Cultural Land Utilization for Ecotourism Development Amongst the Local in Bali Aga of Mount Lesung Region

  • Putu Agus Haribawa Graduate School in Ecotourism Management and Environmental Services, Faculty of Forestry, IPB University, Academic Ring Road, Campus IPB Dramaga, Bogor, Indonesia 16680
  • Ricky Avenzora Department of Conservation of Forest Resources and Ecotourism, Faculty of Forestry, IPB University, Academic Ring Road, Campus IPB Dramaga, Bogor, Indonesia 16680
  • Harnios Arief Department of Conservation of Forest Resources and Ecotourism, Faculty of Forestry, IPB University, Academic Ring Road, Campus IPB Dramaga, Bogor, Indonesia 16680
Keywords: Bali aga, Cultural land, Orientation, One Score One Indicator Scoring, Polarization

Abstract

The ownership transfer and conversion of cultural lands are a long-standing crucial issue in the dynamics of tourism development in Bali, so efforts to build a harmonious orientation among stakeholders in creating sustainable cultural land utilizations are important. For that matter, this research was conducted to study the phenomenon of polarization orientation on cultural land utilization of ecotourism development in Bali Aga. The assessment of cultural land sustainability was conducted using One Score One Indicator Scoring System analysis, with research aspects including ownership, economic, ecological, socio-cultural and spatial aspects. Besides, the polarization of stakeholder orientation was measured through perception, motivation, and preference, then, it was analyzed using Kruskal Wallis and Dunn Tests. The results of One Score One Indicator Scoring System analysis showed that the community has implemented various principles of sustainability in the utilization of cultural land in the Bali Aga region. The sustainable cultural land utilization in the Bali Aga region has not been fully achieved because the stakeholder orientation on various aspects and assessment criteria still experience polarization. Although the polarization orientation is still at the level of polarization scale, it can trigger future problems if the polarization is not well minimized by various stakeholder elements.

References

Agustin, N. K., Sinuraya, J. F., & Pasaribu, S. M. (2011). Sertifikasi lahan pertanian mendorong peningkatan produksi pangan. In S. M. Pasaribu, H. P. Saliem, H. Soeparno, E. Pasandaran, & F. Kasryni, Konversi dan fragmentasi Lahan: Ancaman terhadap kemandirian pangan. Jakarta: IPB Press.

Anisa, Ilham J., & Purnama, T. (2010). Perubahan pola permukiman masyarakat Betawi di Condet. Inersia, 6(1), 65–72. https://doi.org/10.21831/inersia.v6i1.10575.

Ariani, N. M. (2011). Pergulatan otentisitas dan komodifikasi dalam pariwisata budaya. Analisis Pariwisata, 11(1), 27–40.

Avenzora, R. (2008). Penilaian potensi objek wisata: Aspek dan indikator penilaian. In R. Avenzora, Ekoturisme-teori dan praktek. Aceh: BRR NAD-Nias.

Avenzora, R. (2013). Ekoturisme: teori dan implikasi. In D. Darusman, & R. Avenzora, Pembangunan ekowisata pada kawasan hutan produksi: Potensi dan pemikiran. Bogor: Program Pasca Sarjana Institut Pertanian Bogor.

Avenzora, R., Batubara, R. P., Fajrin, R. F., Sagita, E., Armilizia, P. R., Amelia, M., …, & Arifullah, N. (2013). Nagari ecotourism in Ranah Minang, West Sumatera: Potential and collaboration dynamics. In F. Teguh, & R. Avenzora, Ecotourism and sustainable tourism development in Indonesia: Potentials, lessons and best practices. Jakarta: Ministry of Tourism and Creative Economy.

Azhar, M. A. (2013). Marginalisasi masyarakat di daerah pariwisata (Studi kasus di Desa Ungasan Kecamatan Kuta Selatan Kabupaten Badung. Jurnal Ilmiah Administrasi Publik dan Pembangunan, 4(2), 166–176.

Barna, C., Epure, M., & Vasilescu, R. (2011). Ecotourism-conservation of the natural and cultural heritage. Review of Applied Socio-Economic Research, 1(1), 87–96.

Bricker, K. (2007). Overview of ecotourism trends. Washington DC: The International Ecotourism Society.

[BPS] Badan Pusat Statistik. (2013). Statistik pertanian Kabupaten Buleleng 2013. Singaraja: BPS Kabupaten Buleleng.

[BPS] Badan Pusat Statistik. (2016). Provinsi Bali dalam angka. Bali: BPS Provinsi Bali.

Damanik, S. E. (2015). Perencanaan pengembangan wisata alam dan pendidikan lingkungan di kawasan hutan Aek Nauli Kecamatan Lumban Julu. Habonaron Do Bona, 1(1), 18.

Dewi, I. A. L., & Sarjana, I. M. (2015). Faktor-faktor pendorong alih fungsi lahan sawah menjadi lahan non-pertanian (Kasus: Subak Kerdung, Kecamatan Denpasar Selatan). Manajemen Agribisnis, 3(2), 163–171.

Diarta, I. K. S., & Sari, I. K. (2008). Petunjuk pengembangan ekowisata pantai dan rekreasi perairan. In R. Avenzora, Ekoturisme-teori dan praktek. Aceh: BRR NAD-Nias.

Driscoll, L., Hunt, H., Honey, M., & Durham, W. (2011). The importance of ecotourism as a development and conservation tool in the Osa Peninsula, Costa Rica. Washington DC: Stanford University.

Dwijendra, N. K. A. (2003). Perumahan dan pemukiman tradisional Bali. Pemukiman “NATAH”, 1(1), 8–24.

Dwijendra, N. K. A. (2010). Arsitektur rumah tradisional Bali: Berdasarkan Asta Kosala-Kosali. Denpasar: Udayana University Press.

Effendi, A. D. (2008). Identifikasi kejadian longsor dan faktor-faktor utama penyebabnya di Kecamatan Babakan Madang Kabupaten Bogor [thesis]. Bogor: IPB University.

Effendi, E. (2004). Kajian Model Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Terpadu. Info Kajian Bappenas. 1(3),1–19.

Erfandi, D. (2013). Teknik konservasi tanah lahan kering untuk mengatasi degradasi lahan pada Desa Mojorejo-Lamongan. Bumi Lestari, 13(1), 91–97.

Ernawi, I. S. (2009). Kearifan lokal dalam perspektif penataan ruang. In R. Wikantiyoso, & P. Tutuko, Kearifan lokal dalam perencanaan dan perancangan kota: Untuk mewujudkan arsitektur kota yang brkelanjutan. Malang: Group Konservasi Arsitektur & Kota.

Hayati, N. (2017). Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan pembangunan infrastruktur di Desa Senyiur Kecamatan Muara Ancalong Kabupaten Kutai Timur. Administrasi Negara, 5(1), 5375–5388.

Idjudin, A. A. (2011). Peranan konservasi lahan dalam pengelolaan perkebunan. Sumberdaya Lahan, 5(2), 103–116.

Imron, M. B. (2015). Meretas jalan meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD) melalui Desa Wisata Panglipuran Bali. Bima Praja, 7(4), 279–288. https://doi.org/10.21787/jbp.07.2015.279-288

Lascurain, H. C. (1996). Tourism, ecotourism, and protected area. IUCN: Gland, Switzerland and Cambridge. https://doi.org/10.2305/IUCN.CH.1996.7.en

Lash, G. (1997). What is community-based ecotourism. In J. Bornemeier, M. Victor, & P. B. Durst (Eds.), Proceedings of Ecotourism for Forest Conservation and Community Development. Bangkok: FAO/RAP and RECOFTC.

Lestari, P. F. K., Windia, W., & Astiti, N. W. S. (2015). Penerapan Tri Hita Karana untuk keberlanjutan sistem Subak yang menjadi warisan budaya dunia: Kasus Subak Wangaya Betan, Kecamatan Penebel, Kabupaten Tabanan. Manajemen Agribisnis, 3(1), 22–33.

Liliweri, A. (2014). Pengantar studi kebudayaan. Bandung: Nusa Media.

Mahagangga, I. G. A. O., Suryawan, I. B., Nugroho, S., & Sudana, I. P. (2016). Pemetaan jalur “Paket Wisata Pedesaan” di Desa Wisata Panglipuran Kecamatan Bangli Kabupaten Bangli. Udayana Mengabdi, 15(2), 1–6.

Manik, G., Suwena, I. K., & Suardana, I. W. (2016). Faktor pendorong dan penarik wisatawan backpacker mancanegara berwisata ke Bali. IPTA, 4(2), 1–20. https://doi.org/10.24843/IPTA.2016.v04.i02.p04

Musliyatun, T. (2016). Tingkat partisipasi masyarakat terhadap pelaksanaan pembangunan infrastruktur jalan Desa Pelukahan Kecamatan Kuantan Hilir Seberang Kabupaten Kuantan Singungi Provinsi Riau. Jom Fisip, 3(1), 1–15.

Nugroho, I. (2011). Ekowisata dan pembangunan berkelanjutan. Yogyakarta: Pustaka Belajar.

Page, S. J., & Dowling R. K. (2002). Ecotourism. Harlow: Pearson Education Limited.

Pangestu, M. E. (2013). Indonesia's commitment to ecotourism and sustainable tourism development. In F. Teguh, & R. Avenzora, Ecotourism and sustainable tourism development in Indonesia: Potentials, lessons and best practices. Jakarta: Ministry of Tourism and Creative Economy.

Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No. 06/PRT/M/2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Ruang Bangunan dan Lingkungan.

Purnawan, N. L. R., Sardiana, I. K., & Suranjaya, I. G. (2015). Paket desa tradisional Tenganan sebagai model pengembangan wisata edukasi budaya Bali. In: Makalah Seminar Sains dan Teknologi; Denpasar, October 29–30. Pp 1–7.

Ratnaningsih, N. L. G., & Mahagangga, I. G. A. O. (2015). Partisipasi masyarakat lokal dalam pariwisata (Studi kasus di Desa Wisata Belimbing, Tabanan, Bali). Destinasi Pariwisata, 3(1), 45–51. https://doi.org/10.24843/JDEPAR.2015.v03.i01.p06

Reuter, T. A. (2002). Custodians of the sacred mountains: Culture and society in the highlands of Bali. Honolulu: University of Hawai'i Press.

Rifza, H. B., & Amos, S. (2016). Bali traditional settlement morphology analysis Penglipuran, Kubu Village, Bangli Regency, Bali Province. Journal of Architecture and Built Environment, 43(1), 47–54. https://doi.org/10.9744/dimensi.43.1.47-54

Saliem, H. P. (1997). Peranan wanita dalam sistem produksi pertanian menunjang program diversifikasi pangan dan gizi. In Suryana, Kebijaksanaan pembangunan pertanian: Analisis kebijaksanaan antisipatif dan responsif. Jakarta: Pusat Penelitian Sosial Ekonomi Pertanian.

Shinta, A. (2011). Ilmu usahatani. Malang: UB Press.

Silondae, S. (2016). Keterkaitan jalur transportasi dan iteraksi ekonomi Kabupaten Konawe Utara dengan kabupaten/kota sekitarnya. Jurnal Progres Ekonomi Pembangunan, 1(1), 4964.

Snyman, S. (2014). The impact of efrican countries. Tourism and Hospitality Research, 14(1), 37–52. https://doi.org/10.1177/1467358414529435

Soekartawi. (2006). Analisis usaha tani. Jakarta: Universitas Indonesia Press.

Sukerada, I. K., Sutjipta, I. N., & Ap, S. I. G. (2013). Penerapan Tri Hita Karana terhadap kawasan agrowisata Buyan dan Tamblingan di Desa Pancasari Kecamatan Sukasada Kabupaten Buleleng. Manajemen Agribisnis, 1(2), 43–52.

Sutawan, N. (2008). Organisasi dan manajemen Subak di Bali. Denpasar: Pustaka Bali Post.

Tuwo, A. (2011). Pengelolaan ekowisata pesisir dan laut: Pendekatan ekologi, sosial-ekonomi, kelembagaan, dan sarana wilayah. Surabaya: Brilian Internasional.

Utama, I. G. B. R. (2012). Agrowisata sebagai pariwisata alternatif di Indonesia: Solusi masif pengentasan kemiskinan. Yogyakarta: Deepublish.

Wedakarna, I. G. N. A., Paraniti, A. A. S. P., & Wiratny, N. K. (2014). Desa tua di Bali Utara: Kebanggaan identitas Bali Aga (Sidatapa, Cempaga, Tigawasa dan Pedawa). Bali: Universitas Mahendradatta.

Winawangsari, D., Hanan, H., & Martokusumo, W. (2017). Strategy of adaptation of traditional house architecture Bali Aga. International Journal of Research in Engineering and Science (IJRES), 5(8), 1–8.

Windia, W. (2013). Penguatan budaya subak melalui pemberdayaan ptani. Kajian Bali, 3(2), 137–158.

Published
2020-04-28
How to Cite
Haribawa, P. A., Avenzora, R., & Arief, H. (2020). The Polarization of Orientation on Cultural Land Utilization for Ecotourism Development Amongst the Local in Bali Aga of Mount Lesung Region. Jurnal Manajemen Hutan Tropika, 26(1), 21-33. https://doi.org/10.7226/jtfm.26.1.21
Section
Articles