Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk <p><img style="border: 0;" src="/public/journals/48/journalThumbnail_id_ID.jpg" alt="##common.journalThumbnail.altText##" height="210" align="left" />JURNAL TEKNOLOGI PERIKANAN DAN KELAUTAN diasuh oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor dengan jadwal penerbitan 2 (dua) kali dalam satu tahun dengan tujuan menyebarluaskan informasi ilmiah tentang perkembangan teknologi perikanan dan kelautan,antara lain: teknologi perikanan tangkap, teknologi kelautan, inderaja kelautan, akustik dan instrumentasi, teknologi kapal perikanan, teknologi pengolahan hasil perikanan, teknologi budidaya perikanan dan bioteknologi kelautan.Naskah yang dimuat dalam jurnal ini terutama berasal dari penelitian maupun kajian konseptual yang dilakukan oleh mahasiswa dan staf pengajar/akademisi dari berbagai universitas di Indonesia, para peneliti di berbagai bidang lembaga pemerintahan dan pemerhati permasalahan teknologi perikanan dan kelautan di Indonesia.</p><p>Jurnal ini diterbitkan atas kerjasama Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Institut Petanian Bogor dan Masyarakat Sains Kelautan dan Perikanan Indonesia (MSKPI)</p> Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan id-ID Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan 2087-4871 <p>Penulis yang menerbitkan jurnal ini setuju dengan persyaratan berikut:</p><p>a. Penulis mempertahankan hak cipta dan memberikan hak jurnal publikasi pertama dengan karya yang secara bersamaan dilisensikan di bawah <span> </span><a href="http://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0/" rel="license">Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License</a><span>.</span> yang memungkinkan orang lain membagikan karya tersebut dengan pengakuan dari karya penulis dan publikasi awal dalam jurnal ini.</p><p><br />b. Penulis dapat memasukkan pengaturan kontrak tambahan yang terpisah untuk distribusi non-eksklusif dari versi terbitan jurnal tersebut (misalnya, kirimkan ke repositori institusional atau publikasikan dalam sebuah buku), dengan pengakuan publikasi awalnya di jurnal ini</p><p><br />c. Penulis diijinkan dan didorong untuk memposting pekerjaan mereka secara online (misalnya di gudang institusional atau di situs web mereka) sebelum dan selama proses penyampaian, karena dapat menyebabkan pertukaran yang produktif, serta kutipan karya yang diterbitkan sebelumnya dan yang lebih lama.</p><div class="separator"> </div> MODEL KONSEPTUAL PENGEMBANGAN PERIKANAN TONGKOL DAN CAKALANG YANG DIDARATKAN DI KOTA BENGKULU http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/20721 <p align="left">Kota Bengkulu merupakan salah satu kota pantai yang berada di bagian barat pulau Sumatera. Kota ini berbatasan langsung dengan Samudera Hindia dan memiliki potensi perikanan terutama untuk ikan tongkol dan cakalang. Sebanyak 5.818 ton ikan tongkol dan 2.031 ton ikan cakalang telah mendarat setiap tahun di PPP Pulau Baai Kota Bengkulu. Meski memiliki potensi ikan yang melimpah namun nelayan hanya bisa memanfaatkannya sebesar 48%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui permasalahan yang terjadi pada perikanan tongkol dan cakalang yang mendarat di Kota Bengkulu dan menciptakan model konseptual untuk memberikan solusi terkait permasalahan pada perikanan tongkol dan cakalang yang mendarat di kota Bengkulu. Analisis tersebut telah dilakukan dengan menggunakan <em>soft system methodologi</em> (SSM). Permasalahan yang ditemukan pada perikanan tongkol dan cakalang adalah fasilitas PPP Pulau Baai yang tidak cukup baik, DKP tidak dapat memberikan bantuan gratis kepada nelayan yang tepat, Syahbandar tidak dapat melakukan memantau dengan baik terhadap nelayan dan tidak ada industri tongkol dan cakalang di kota ini. Solusi dari penelitian ini adalah untuk memperbaiki fasilitas PPP Pulau Baai, target bantuan DKP yang lebih tepat, untuk mengaktifkan industri pengolahan auxis dan cakalang serta untuk meningkatkan kinerja syahbandar terkait dengan masa aktif izin penangkapan ikan.</p> Silvy Syukhriani Tri Wiji Nurani John Haluan ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-01-16 2019-01-16 9 1 1 11 10.24319/jtpk.9.1-11 STRATEGI PENGELOLAAN PERIKANAN GURITA DI KABUPATEN BANGGAI LAUT, PROVINSI SULAWESI TENGAH http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/21066 <p>Perikanan gurita di Kabupaten Banggai Laut termasuk kategori perikanan yang <em>small scale fisheries</em>. Hal ini dikarenakan nelayan Banggai Laut menangkap gurita dengan menggunakan kapal dan alat tangkap yang sederhana. Tren CPUE gurita dalam 3 tahun terakhir (2014-2016) menunjukkan penurunan yang cukup drastis. Penurunan yang terjadi mengindikasikan bahwa tingkat pemanfaatan daerah penangkapan gurita di daerah tersebut sudah terjadi penangkapan yang berlebih. Hal ini menunjukkan bahwa gurita di Kabupaten Banggai Laut belum dikelola secara optimal. Pengelolaan hanya melakukan penangkapan terus menerus tanpa mempertimbangkan dampak terhadap sumberdaya gurita. Pengelolaan secara benar perlu dilakukan untuk menjaga potensi sumberdaya gurita agar tetap lestari. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengelolaan daerah penangkapan octopus di Kabupaten Banggai Laut. Pendekatan strategi pengelolaan menggunakan pendekatan strategi <em>Strength, Weakness, Oppurtunity, Threats</em> (SWOT). Strategi pengelolaan perikanan gurita di Kabupaten Banggai Laut dilakukan dengan 1) Strategi SO dengan opsi strategi: Pengembangan kerjasama dengan industri pengolahan ikan dan memanfaatkan potensi perikanan gurita 2) Strategi ST dengan opsi strategi: Menetapkan aturan dan sanksi yang tegas terkait nelayan yang melakukan <em>illegal fishing</em> dan membatasi armada penangkapan ikan. 3) Strategi WO dengan opsi strategi: peningkatan kualitas SDM dan membangun pelabuhan perikanan. 4) Strategi WT dengan opsi strategi: membuat aturan terkait bobot gurita dan pengawasan daerah penangkapan ikan.</p> Daniel Julianto Tarigan Domu Simbolon Budy Wiryawan ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-01-16 2019-01-16 9 1 13 24 10.24319/jtpk.9.13-24 TINGKAT PEMANFAATAN DAN STATUS KONSERVASI PERIKANAN HIU DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA (PPS) CILACAP http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/24498 <p>Hiu merupakan sumber daya perikanan sangat rentan terhadap usaha penangkapan yang berlebihan (<em>over</em>-eksploitasi). Eksploitasi hiu di Indonesia masih berlanjut hingga hari ini tanpa diimbangi dengan tata kelola dan manajemen yang mengarah pada perikanan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemanfaatan hiu dan mengidentifikasi jenis hiu yang didaratkan di PPS Cilacap berdasarkan status konservasi. Penelitian ini dilakukan pada bulan April-Mei 2015 di PPS Cilacap, Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah <em>deskriptif survey</em>. Tingkat pemanfaatan dihitung dengan cara menghitung jumlah hasil tangkapan pada tahun tertentu terhadap nilai TAC (<em>Total Allowable Catch</em>) atau jumlah tangkapan yang diperbolehkan. Jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) tersebut adalah 80% dari potensi maksimum lestari (MSY). Pendugaan nilai MSY dianalisis menggunakan model surplus produksi <em>Fox</em>. Status konservasi hiu dianalisis berdasarkan hasil tangkapan hiu yang didaratkan di PPS Cilacap dibandingkan dengan daftar kategori konservasi <em>International Union for Conservation of Nature</em> (IUCN). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hiu tertangkap dan didaratkan di PPS Cilacap pada bulan Februari-Mei 2015 terdiri dari 11 famili atau 30 spesies. Hasil tangkapan terdiri dari famili Alopiidae, Carcharhinidae, Squalidae, Hexanchidae, Lamnidae, Triakidae, Sphyrnidae, Squatinidae, Rhinidae, Centrophoridae, dan Chimaeridae. Hasil tangkapan tertinggi berasal dari famili Alopiidae (2.028 hiu) dan hasil tangkapan terendah berasal dari famili Chimaeridae (2 hiu). Tingkat pemanfaatan hiu yang didaratkan di PPS Cilacap pada tahun 2010-2014 berdasarkan model surplus produksi <em>Fox</em> adalah 24-81%. Sebagian besar dari jumlah tangkapan hiu mendarat di PPS Cilacap pada bulan Februari-Mei 2015 yang mencakup dalam kategori dari rentan (46,44%) dan hampir terancam (39,65%). Jenis hiu yang didaratkan di PPS Cilacap termasuk dalam kategori rawan adalah <em>A. pelagicus, A. superciliosus, I. paucus, C. plumbeus, R. ancylostoma, I. oxyrinchus, N. acutidens, C. squamosus, C. longimanus</em>, sedangkan jenis hiu yang termasuk dalam kategori hampir terancam adalah <em>C. sorrah, C. falciformis, H. perlo, P. glauca, C. brevivina, C. amblyrhynchoides, G. cuvieri, C. leucas, H. griceus, C. albimarginatus</em>.</p> Irfan Hanifa Mulyono S Baskoro Sulaeman Martasuganda Domu Simbolon ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-01-16 2019-01-16 9 1 25 34 10.24319/jtpk.9.25-34 ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI STAPHYLOCOCCUS EPIDERMIS PADA IKAN ASAP PINEKUHE http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/22194 <p>Ikan asap <em>Pinekuhe</em> merupakan produk perikanan yang diolah secara tradisional oleh nelayan Kabupaten Kepulauan Sangihe. <em>Staphylococcus epidermis</em> merupakan bakteri patogen yang bersifat oportunistik yaitu menyebabkan infeksi pada manusia yang imunitasnya lemah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri <em>S. epidermis</em> yang diisolasi dari ikan asap<em> Pinekuhe</em>. Empat puluh isolat sampel dibiakan pada media Manitol salt Agar, dan terduga diuji terhadap pewarnaan Gram, Katalase, Motility dan Koagulase. Terdapat 13 isolat yang teridentifikasi sebagai <em>S. epidermis</em>, yang memiliki karakteristik sebagai Gram positif, berbentuk bulat, bergerombol, berdiameter 0,5μm-1μm, non motil, katalase positif dan tidak memfermentasi Manitol. Dengan demikian, terdapat 32,5% <em>S. epidermis</em> yang mengkontaminasi produk ikan asap <em>Pinekuhe</em>.</p> Ely John Karimela Frans G Ijong Jaka F P Palawe Jeffri A Mandeno ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-01-16 2019-01-16 9 1 35 42 10.24319/jtpk.9.35-42 DAYA DUKUNG BUDIDAYA IKAN KERAPU PADA KERAMBA JARING APUNG TELUK AWANG DAN TELUK BUMBANG, NTB http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/22975 <p>Daya dukung perairan merupakan potensi perairan untuk memanfaatkan sumber daya pesisir atau ekosistem tanpa menimbulkan kerusakan dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya dukung perairan menampung limbah yang masuk dari kegiatan budidaya ikan kerapu pada keramba jaring apung perairan Teluk Awang dan Teluk Bumbang. Penelitian ini dilaksanakan pada Bulan April sampai November 2015. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survey dengan pengukuran langsung di perairan Teluk Awang dan Teluk Bumbang. Analisis daya dukung digunakan untuk mengestimasi beban limbah yang masuk ke perairan baik dari antropogenik maupun dari kegiatan budidaya ikan dalam keramba jaring apung. Hasil perhitungan estimasi daya dukung perairan Teluk Awang dan Teluk Bumbang berdasarkan total limbah N antropogenik sebesar 39,14 kg/hari dengan konsentrasi rata-rata NH3 sebesar 0,0081 mg/l pada Teluk Awang dan 0,0062 mg/l pada Teluk Bumbang. Estimasi jumlah unit keramba jaring yang dapat digunakan di Teluk Awang sebanyak 67 unit dan 248 unit keramba jaring apung yang dapat digunakan di Teluk Bumbang.</p> Lydia Safriyani Marpaung Yusli Wardiatno Isdradjad Setyobudiandi Taslim Arifin ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-01-16 2019-01-16 9 1 43 53 10.24319/jtpk.9.43-53 PERKEMBANGAN LARVA UDANG GALAH (MACROBRACHIUM ROSENBERGII) HASIL PERSILANGAN POPULASI ACEH DAN STRAIN SIRATU http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/21946 <p>Budidaya udang galah sangat diminati dan berkembang pesat karena memiliki nilai ekonomis yang tinggi. Permasalahan yang timbul yakni pengendalian terhadap kualitas genetik udang galah menjadi turun terutama pada produksi larva tanpa diikuti manajemen induk yang baik, upaya yang dapat dilakukan yaitu perbaikan genetik melalui kegiatan persilangan induk (hibridisasi) untuk menghasilkan larva dengan kualitas unggul. Hibridisasi intraspesifik menggunakan udang galah populasi Aceh (A) dan strain Siratu (R) dilakukan secara resiprokal (RA dan AR) dan galur murni (RR dan AA). Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persilangan resiprokal udang galah populasi Aceh dan strain Siratu terhadap laju dan durasi perkembangan larva yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa larva hasil persilangan dengan metode resiprokal hibrida Siratu x Aceh (RA) dengan nilai laju perkembangan 9,87 dan durasi perkembangan 27 hari lebih baik dibandingkan hibrida Aceh x Siratu (AR) dengan nilai laju perkembangan 9,78 dan durasi perkembangan 30 hari untuk mencapai <em>post larva</em>. Hasil persilangan hibridisasi RA dan AR lebih lama dibandingkan inbrida Siratu x Siratu (RR) tetapi lebih cepat dibandingkan dengan inbrida Aceh x Aceh (AA) sebagai tetua.</p> Istiqomah Nuraini Tarsim Tarsim Wisnu Sujatmiko ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-01-16 2019-01-16 9 1 55 63 10.24319/jtpk.9.55-63 IDENTIFIKASI PLANKTON DI KAWASAN BUDIDAYA RUMPUT LAUT KABUPATEN BANTAENG, SULAWESI SELATAN DENGAN METODE DNA BARCODING http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/21932 <p>DNA <em>barcoding</em> merupakan metode yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi plankton dengan melihat materi genetiknya. DNA <em>barcoding</em> dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu ekstraksi, amplifikasi, purifikasi, dan sekuensing. Sampel yang digunakan adalah diambil pada bulan Juli 2017 dan Desember 2017 dari kawasan budidaya rumput laut Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi plankton dari kawasan budidaya rumput laut di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan dengan metode DNA <em>barcoding</em> menggunakan primer 18S rDNA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa plankton yang teridentifikasi adalah zooplankton, yaitu <em>Pegurus bernhardus</em>, <em>Canthocalanus pauper</em>, <em>Calanus finmarchicus</em>, dan <em>Copepoda</em> pada stasiun B, <em>Acartia longiremis</em> dan <em>Subeucalanus pileatus</em> pada stasiun C, dan <em>Oithona sp</em>. pada stasiun D dan E.</p> Margaretha Sandra Apriliyanti Sutanti Sutanti Deny Sapto Chondro Utomo ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-01-16 2019-01-16 9 1 65 72 10.24319/jtpk.9.65-72 PENGUKURAN KOEFISIEN ATENUASI DAN HUBUNGANNYA DENGAN KUALITAS AIR DI PERAIRAN KELURAHAN PULAU PANGGANG http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/22824 <p>Koefisien atenuasi merupakan gambaran seberapa besar cahaya datang berkurang atau hilang dibandingkan dengan energi cahaya datang di permukaan. Pengurangan energi cahaya dikarenakan adanya proses absorpsi dan hamburan oleh kolom air dan materi yang terkandung di dalamnya seperti fitoplankton, padatan tersuspensi dan <em>colored dissolved organic matter</em>. Kuantitas cahaya yang mengalami atenuasi setara dengan jumlah cahaya yang diabsorpsi dan dihamburkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara koefisien atenuasi dengan kualitas air, serta mengkaji karakteristik optik perairan Kelurahan Pulau Panggang. Pengukuran spektral menggunakan TriOSRamses yang memiliki sensor <em>irradiance</em> dengan panjang gelombang antara 320 nm sampai 950 nm dan rentang kanal 3,3 nm. Perhitungan koefisien atenuasi (Kd) berdasarkan perubahan <em>downwelling irradiance</em> pada dua kedalaman berbeda. Korelasi Pearson digunakan untuk mengetahui hubungan antara Kd dengan kualitas air. Berdasarkan rentang panjang gelombang, Kd dibagi menjadi 4 yaitu Kd PAR, Kd biru, Kd hijau dan Kd merah. Kd biru dan Kd hijau memiliki hubungan paling erat dengan kecerahan sebesar 0,5406 dan 0,3990 serta bersifat negatif, sedangkan Kd PAR dan Kd merah paling erat hubungannya dengan muatan padatan tersuspensi sebesar 0,4015 dan 0,4073 dan bersifat positif. Perairan Kelurahan Pulau Panggang merupakan perairan turbid dengan nilai Kd PAR &gt; 0,115 m-1.</p> Fanny Meliani Vincentius P Siregar Nani Hendiarti Ety Parwati ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-01-16 2019-01-16 9 1 73 81 10.24319/jtpk.9.73-81 TINGKAT KERAMAH LINGKUNGAN ALAT TANGKAP GILL NET DI KECAMATAN NIPAH PANJANG, JAMBI http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/23441 <p>Kompetisi antar alat tangkap untuk mendapatkan hasil tangkapan yang maksimal, menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya <em>over fishing</em>. Oleh sebab itu, alat tangkap ramah lingkungan merupakan acuan dalam penggunaan teknologi dan alat tangkap ikan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui tingkat keramah lingkungan dari masing-masing alat tangkap nelayan <em>gill net</em> yang ada di Kelurahan Nipah Panjang 1 pada bulan Februari 2018, berdasarkan kriteria FAO (1995). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah survei. Teknik pengambilan sampel yaitu purposive sampling dengan responden nelayan yang telah melaut minimal 5 tahun dan kapal yang digunakan minimal berukuran 3 GT. Sampel diambil sebanyak 50% dari masing-masing populasi alat tangkap untuk dianalisis tingkat keramah lingkungannya. Hasil analisis tingkat keramah lingkungan alat tangkap nelayan <em>gill net</em> di Kelurahan Nipah Panjang 1 menunjukkan bahwa <em>gill net</em> kurau termasuk dalam kategori alat tangkap sangat ramah lingkungan dengan nilai sebesar 28. Sedangkan untuk alat tangkap <em>gill net</em> 7 inci, <em>gill net millennium</em>, dan <em>gill net</em> 4 inci termasuk dalam kriteria alat tangkap ramah lingkungan dengan nilai berturut-turut adalah 25.2, 23.8, dan 23.5.</p> Lisna Lisna Jasmine Masyitha Amelia Nelwida Nelwida Mia Andriani ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-01-16 2019-01-16 9 1 83 96 10.24319/jtpk.9.83-96 ADAPTASI RETINA IKAN SELAR (SELAROIDES LEPTOLEPSIS) TERHADAP INTENSITAS CAHAYA LAMPU http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jtpk/article/view/24838 <p>Potensi ikan selar merupakan salah satu potensi ikan pelagis yang cukup besar di Indonesia. Nelayan banyak menangkap ikan selar melalui <em>light fishing</em> yang hingga saat ini masih terus dikembangkan teknologinya. Penggunaan cahaya tidak dapat terlepas dari sifat fototaksis positif yang dimiliki ikan. Peranan retina pada mata ikan menjadi penting dalam melihat kemampuan adaptasi ikan, sehingga diperlukan penelitian yang lebih banyak mengenai adaptasi retina ikan pada ikan hasil tangkapan <em>light fishing</em> guna menunjang pengembangan teknologi penangkapan. Penelitian ikan selar ini dilakukan di Laboratorium Kesehatan Ikan, Departemen Budidaya Perikanan, IPB untuk pengamatan retina ikan melalui metode histologi sehingga dapat dilihat rasio penjuluran sel kon mata ikan pada setiap intensitas cahaya, yaitu 10 lux, 20 lux, 35 lux dan 50 lux dengan dua warna cahaya, yaitu putih dan biru. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pergerakan sel kon tetap terjadi seiring dengan peningkatan intensitas cahaya yang dipaparkan. Akan tetapi peningkatan pergerakan sel kon menuju membran pembatas luar untuk tiap warna cahaya berbeda. Pengaruh warna cahaya pada intensitas yang berbeda didapatkan bahwa ikan selar ini sensitif terhadap warna cahaya putih dan biru pada hampir semua intensitas yang diujicoba dengan kisaran penjuluran antara 79%-90%. Ikan selar lebih cepat bereaksi pada cahaya dengan iluminasi rendah karena penjuluran ikan lebih maksimal terjadi pada pemaparan 10 lux hingga 35 lux. Hal ini dapat disebabkan oleh tempat hidup ikan selar yang tergolong pelagik sehingga ikan selar tidak memerlukan iluminasi dan cahaya dengan panjang gelombang yang tinggi.</p> Nur Lina M Nabiu Mulyono S Baskoro Zulkarnain Zulkarnain Roza Yusfiandayani ##submission.copyrightStatement## http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0 2019-01-16 2019-01-16 9 1 97 102 10.24319/jtpk.9.97-102