Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi <p>Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (JPHPI), formerly known as Buletin Teknologi Hasil Perikanan, was established in 1996 at the Department of Aquatic Product Technology. Since 2010, the publication of JPHPI has been jointly managed by the Department of Aquatic Product Technology and Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesian (MPHPI). Since Volume 19 Number 3 (2016), each number publishes 20 articles.</p> <p>&nbsp;</p> <p>&nbsp;</p> Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI) en-US Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 2303-2111 <p>Authors who publish with this journal agree to the following terms:</p><ol type="a"><li>Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a <a href="https://creativecommons.org/licenses/by/3.0/" target="_new">Creative Commons Attribution License</a> that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in this journal.</li><li>Authors are able to enter into separate, additional contractual arrangements for the non-exclusive distribution of the journal's published version of the work (e.g., post it to an institutional repository or publish it in a book), with an acknowledgement of its initial publication in this journal.</li></ol> Karakteristik mutu edible film karagenan dengan penambahan minyak atsiri bawang putih (Allim sativum) pada produk pasta ikan http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi/article/view/30542 <p><em>Edible film</em> merupakan pengemas <em>biodegradable</em> yang berasal dari bahan alami, termasuk karagenan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan karakteristik <em>edible film</em> karagenan dengan penambahan minyak atsiri bawang putih (<em>Allium sativum</em>) konsentrasi berbeda pada produk pasta ikan. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratorium menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu faktor yaitu konsentrasi minyak atsiri bawang putih (0%; 0,1%; 0,3%, dan 0,5%) (v/v), masing-masing perlakuan dilakukan tiga kali ulangan. Parameter uji terdiri dari kuat tarik, persen pemanjangan, laju transmisi uap air, dan aktivitas antijamur yang diisolasi dari bakso ikan, otak-otak ikan, dan sosis ikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan konsentrasi penambahan minyak atsiri bawang putih yang berbeda memberikan pengaruh nyata (p&lt;0,05) terhadap kuat tarik, persen pemanjangan, laju transmisi uap air, dan aktivitas antijamur. Penambahan minyak atsiri bawang putih memberikan karakteristik dan aktivitas antijamur terbaik pada konsentrasi 0,5%, dengan kuat tarik sebesar 14,7 MPa, persen pemanjangan 25,98%, laju transmisi uap air 0,84 g/m<sup>2</sup>/jam, zona hambat terhadap Aspergillus niger 5,1 mm dan zona hambat terhadap <em>Aspergillus flavus</em> 4,13 mm.<br><br></p> Khusnul Qotimah Eko Nurcahya Dewi Lukita Purnamayati Copyright (c) 2020-04-30 2020-04-30 23 1 1 9 Efektivitas bubur rumput laut Sargassum polycystum sebagai pembalur ikan nila (Oreochromis niloticus) untuk mempertahankan mutu http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi/article/view/30543 <p>Tujuan penelitian ini yaitu menentukan proporsi terbaik bubur rumput laut dalam menghambat kemunduran mutu ikan nila. Proporsi bubur rumput laut yang digunakan yaitu 0; 12,5; 25; 50%. Parameter uji meliputi organoleptik, derajat keasaman, total mikroba, dan <em>total volatile base</em> (TVB). Penelitian ini meliputi preparasi sampel, analisis fitokimia, pembuatan proporsi bubur rumput laut, serta penentuan proporsi bubur rumput laut terbaik. Penelitian dilakukan pada suhu ruang dengan dua kali ulangan. Hasil analisis fitokimia ekstrak metanol menunjukkan bahwa <em>S. polycystum</em> mengandung senyawa alkaloid, steroid, flavonoid, fenol, dan tanin. Proporsi bubur rumput laut 25% merupakan perlakuan terbaik dalam mempertahankan mutu ikan nila hingga waktu penyimpanan jam ke-6. Semakin lama waktu penyimpanan maka ikan nila semakin mengalami kemunduran mutu.</p> Ruddy Suwandi Annisa Cahyani Heldestasia Nurjanah Copyright (c) 2020-04-30 2020-04-30 23 1 10 21 The influence of extension activities on the competencies of traditional fisheries processing in Lampung Province http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi/article/view/30592 <p>Extension is an informal learning process that plays an important role in improving fisheries processors competencies. However, current extension activities that have been running so far are felt to be lacking so it is necessary to look at the effectiveness of conducting extension on traditional fisheries business related to methods, media, materials and capabilities of extension agents. This study was aimed to (1) analyze the effectiveness of fisheries extension activities in traditional fisheries processing businesses in Lampung Province, (2) analyze traditional processors competency<br>levels, (3) analyze the effect of extension on processors competencies/capabilities in traditional fisheries processing businesses. This study used a quantitative approach enriched with qualitative analysis. The survey was conducted to obtain primary data using a questionnaire. The research location were in three districts in Lampung Province. The data analysis technique used descriptive and regression analysis. The results of the study were (1) the effectiveness of extension was still low, (2) traditional processors competencies belonged to the low category, and (3) the ability of extension agents affected the development of fisheries processors’ competencies. The effectiveness of extension is still low due to the limited extension methods. Therefore it is important to carry out extension activities with varied methods according to the target needs to improve the competency of traditional fisheries processors.</p> Helvi Yanfika Siti Amanah Anna Fatchiya Pang S. Asngari Abdul Mutolib Kordiyana K Rangga Copyright (c) 2020-04-30 2020-04-30 23 1 22 30 Nilai sun protection factor anggur laut segar dengan metode dan jenis pelarut ekstraksi yang berbeda http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi/article/view/30692 <p>Kanker kulit melanoma merupakan satu dari sembilan belas kanker yang sering terjadi di seluruh dunia. Kebutuhan akan adanya alternatif zat aktif tabir surya menjadi sangat penting terutama dari bahan alam laut yaitu anggur laut (<em>Caulerpa</em> sp.). Penelitian ini bertujuan untuk menentukan nilai SPF ekstrak cair anggur laut segar dengan metode ekstraksi yang berbeda. Metode ekstraksi dilakukan dengan dua cara yaitu maserasi dan <em>microwave-assisted extraction</em> (MAE) masing-masing dengan tiga jenis pelarut (etanol, air, dan etanol-air 1:1). Ekstrak cair yang dihasilkan diukur pH dan ditentukan nilai SPF secara invitro menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Ekstrak cair anggur laut segar dengan nilai SPF in vitro tertinggi kemudian dianalisis aktivitas antioksidannya menggunakan metode DPPH. Ekstrak cair yang dihasilkan berbau amis, dan berwarna hijau dengan intensitas warna yang berbeda. Interaksi antara perlakuan metode ekstraksi dan jenis pelarut menunjukkan perbedaan signifikan terhadap nilai pH ekstrak cair anggur laut segar. Nilai SPF dari ekstrak maserasi etanol, air, dan etanol-air berturut-turut 0,583; 3,099; 2,911 sedangkan ekstrak<br>MAE 3,807; 5,555; 4,979. Metode MAE menunjukkan nilai SPF in vitro yang lebih tinggi secara signifikan daripada maserasi tanpa melihat perbedaan pelarut.Hasil persentase penghambatan DPPH dari ekstrak MAE dengan pelarut etanol, air, dan etanol-air pada konsentrasi 106 mg/mL berturut-turut 33,85%; 22,99%; 17,44%. Aktivitas antioksidan ekstrak etanol dengan metode ekstraksi MAE lebih tinggi daripada ekstrak dengan pelarut lainnya namun tidak lebih&nbsp; tinggi dibandingkan dengan asam askorbat sebagai pembanding.</p> Ayun Erwina Arifianti Rizky Clarinta Putri Salsabiela Haz Ekaputri Wanda Nisrina Aqilah Effionora Anwar Copyright (c) 2020-04-30 2020-04-30 23 1 31 37 Ekstraksi dry rendering dan karakterisasi minyak ikan patin (Pangasius sp.) hasil samping industri filet di lampung http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi/article/view/30722 <p>Produksi minyak ikan di Indonesia memiliki kualitas rendah dan hanya dimanfaatkan sebagai bahan tambahan pakan ternak. Tingginya suhu dan lamanya ekstraksi memicu pembentukan radikal bebas dan oksidasi pada minyak sehingga memengaruhi kualitas minyak yang dihasilkan. Perbaikan proses ekstraksi mampu menghasilkan minyak ikan dengan kualitas baik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan suhu dan waktu ekstraksi untuk menghasilkan&nbsp; minyak ikan sesuai standar IFOS dengan metode <em>dry rendering</em>. Ekstraksi dilakukan pada suhu 50, 60, 70<sup>o</sup>C dan waktu <br>1, 2, 3 jam dengan metode dry rendering. Hasil ekstraksi terbaik yaitu pada suhu 50<sup>o</sup>C, 2 jam dan selanjutnya dilakukan pemurnian dengan proses bleaching menggunakan magnesol XL. Minyak ikan yang dihasilkan memiliki asam lemak bebas 0,08±0,03%, p-anisidin 1,92±0,63 mEq kg<sup>-1</sup>, total oksidasi 7,48±0,23 mEq kg<sup>-1</sup> dan bilangan peroksida 2,70±0,20 mEq/kg. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minyak ikan memenuhi standar IFOS pada parameter asam lemak bebas (≤ 1,5%), bilangan p-anisidin (≤ 20,0 meq kg-1), total oksidasi (≤ 26,0 meq kg-1) dan bilangan peroksida (≤5,0 meq kg<sup>-1</sup>).</p> Sugeng Heri Suseno Ahmad Khoirudin Rizkon Agoes Mardiono Jacoeb Nurjanah Nurjanah Pipin Supinah Copyright (c) 2020-04-30 2020-04-30 23 1 38 46 Logam berat pada hiu tikus (Alopias pelagicus) dan hiu kejen (Loxodon macrorhinus) dari Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo, Banda Aceh http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi/article/view/30724 <p>Hiu merupakan salah satu jenis ikan yang berpotensi tercemar logam berat. Hal ini karena hiu memiliki sebaran yang luas dan tergolong ke dalam konsumen tingkat tinggi pada jejaring makanan akuatik. Informasi terkait kandungan logam berat pada ikan hiu hasil tangkapan di Indonesia masih sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kandungan logam berat (Pb, Hg, Cu dan Cd) dan batas aman konsumsi daging hiu tikus (<em>Alopias pelagicus</em>) dan hiu kejen (<em>Loxodon macrorhinus</em>) yang didaratkan di Pelabuhan Perikanan Samudera Lampulo, Banda Aceh. Sebanyak sepuluh contoh dari masing-masing daging hiu tikus dan hiu kejen dianalisis kandungan logam beratnya menggunakan metode spektrofotometri serapan atom. Penentuan batas aman konsumsi dari daging hiu dilakukan menggunakan metode maximum tolerable intake (MTI). Hasil penelitian mengungkap dari 20 sampel daging hiu tikus dan hiu kejen yang diperiksa, keberadaan Pb, Cu dan Cd tidak terdeteksi. Sebaliknya, 60% dari total hiu yang diperiksa (baik hiu kejen maupun hiu tikus) terdeteksi mengandung Hg. Kandungan rata-rata Hg pada hiu tikus berkisar antara 0,007– 0,768 mg/kg sedangkan pada hiu kejen berkisar antara 0,030 – 0,708 mg/kg. Batas toleransi maksimum daging hiu tikus yang dapat dikosumsi oleh orang dewasa dan anak-anak dalam waktu satu minggu menurut SNI adalah masing masing sebesar 1,690 kg/minggu dan 0,507 kg/minggu. Sementara itu, batas toleransi maksimum daging hiu kejen yang dapat dikosumsi oleh orang dewasa dan anak-anak dalam waktu satu minggu menurut SNI 7387 adalah masing masing sebesar 2,112 kg/minggu dan 0,633 kg/minggu.</p> Ilham Zulfahmi Dewi Nola Nasution Khairun Nisa Yusrizal Akmal Copyright (c) 2020-04-30 2020-04-30 23 1 47 57 Komponen bioaktif dan aktivitas antioksidan ekstrak kasar Sargassum plagyophyllum http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi/article/view/30725 <p>Rumput laut cokelat (<em>Sargassum plagyophyllum</em>) berpotensi sebagai antioksidan alami karena memiliki kandungan flavonoid dan fenolik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komposisi proksimat, mengidentifikasi komponen bioaktif, dan aktivitas antioksidan ekstrak kasar <em>S. plagyophyllum</em>. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan melakukan ekstraksi <em>S. plagyophyllum</em> menggunakan beberapa pelarut organik, antara lain: n-heksana, etil asetat, dan metanol. Parameter analisis terdiri atas analisis proksimat, rendemen, fitokimia, dan aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH. Hasil penelitian menunjukkan komposisi kimia (kadar air, abu, protein, lemak, karbohidrat, dan total serat kasar) berturut-turut sebesar 15,98 (bb); 21,38%; protein 9,05%; 0,88%; 68,69%; 22,24% (bk). Rendemen ekstrak heksana, etil asetat, dan metanol adalah 0,6; 0,28; dan 0,31%. Hasil ekstraksi dengan pelarut heksana didapatkan senyawa steroid/triterpenoid; pelarut etil asetat didapatkan senyawa alkaloid, flavonoid, steroid/triterpenoid, saponin, dan fenolik; sedangkan ekstraksi dengan pelarut metanol didapatkan semua komponen bioaktif kecuali flavonoid. Aktivitas antioksidan ekstrak <em>S. plagyophylum</em> dengan heksana, etil asetat, dan metanol dihasilkan nilai nilai IC<sub>50</sub> 1105,58 ppm; 532,42 ppm; dan 777,79 ppm.</p> Edison Edison Andarini Diharmi Nurul Muji Ariani Mirna Ilza Copyright (c) 2020-04-30 2020-04-30 23 1 58 66 Pemanfaatan Ekstrak Buah Mangrove Untuk Menghambat Pembentukan Melanosis Pada Udang Vaname (Litopenaeus Vannamei) http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi/article/view/30862 <p>&nbsp;Mangrove diketahui mempunyai kemampuan bioaktif untuk menghambat aktivitas enzim tirosinase. Penelitian bertujuan untuk menentukan konsentrasi ekstrak buah mangrove yang berperan dalam menghambat melanosis udang vaname selama penyimpanan 10 hari pada 0<sup>o</sup>C. Buah mangrove yang digunakan adalah <em>Rhizophora mucronata, Rhizophora apiculata </em>dan <em>Avicennia marina</em>. Buah mangrove diekstraksi menggunakan air. Konsentrasi ekstrak yang digunakan adalah 25% dan 50%. Udang disimpan selama 10 hari pada suhu 0<sup>o</sup>C menggunakan <em>coldbox</em>. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap Faktorial (RALF). Parameter uji melanosis, organoleptik, warna dianalisis dengan ANOVA, dengan uji lanjut <em>duncan</em>. Parameter organoleptik dianalisis dengan uji non parametrik <em>kruskal wallis</em>, uji lanjut <em>multiple comparison</em>. Hasil penelitian menunjukkan udang yang direndam menggunakan ekstrak mangrove <em>R. mucronata 50% </em>dan <em>R. apiculata </em>50% kemudian disimpan pada suhu 0<sup>o</sup>C mempunyai nilai melanosis terendah dibandingkan dengan ekstrak mangrove lainnya. Kenampakan organoleptik udang dapat dipertahankan dengan perendaman ekstrak <em>R. mucronata </em>50% dan <em>R. apiculata </em>50%, seluruh ekstrak tidak mempengaruhi bau khas dan tekstur udang vaname. Uji warna menunjukkan <em>R. mucronata </em>25% mempunyai nilai L* tertinggi yang tidak berbeda nyata dengan <em>R mucronata </em>50%. Nilai L* udang yang direndam <em>A. marina </em>25% memiliki tingkat keefektifan terendah dalam mempertahankan nilai L*, seluruh jenis ekstrak, tidak mempengaruhi nilai a* dan b* warna udang. Ekstrak buah mangrove <em>R. mucronata </em>50% dan <em>R.apiculata </em>efektif dalam menghambat melanosis udang.</p> <p>&nbsp;</p> Tatty Yuniarti Yuliati Sipahutar Husnul Khatimah Ramli Noor Pitto Sari Nio Lita Copyright (c) 2020-04-08 2020-04-08 23 1 67 76 Studi Kandungan Logam Berat pada Kerang Lokan (Geloina erosa) di Perairan Aceh Barat http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi/article/view/30887 <p>Pesatnya pertumbuhan industri di wilayah pesisir Aceh Barat diduga menjadi sumber pencemaran logam berat di perairan dan terakumulasi pada biota laut, salah satunya yaitu kerang lokan (<em>Geloina erosa</em>). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan logam berat Hg, Cd, Pb, Cu, As, dan Zn pada kerang lokan mentah dan rebus, serta menentukan batas toleransi konsumsi kerang lokan yang mengandung logam berat. Pengambilan sampel kerang lokan dilakukan di 3 stasiun, yaitu perairan Peunaga Rayeuk, Ujong Baroh, dan Kuala Bubon. Sampel dikelompokkan menjadi dua perlakuan, yaitu P1 (mentah) dan P2 (rebus). Analisis kandungan logam berat menggunakan Atomic Absorbtion Spectrophotometry (AAS). Hasil analisis kandungan logam Hg pada stasiun 2 yaitu P1 13,2754 mg/kg dan P2 sebesar 12,5491 mg/kg, pada stasiun 3 yaitu P1 1,2418 mg/kg dan P2 0,1956 mg/kg. Kandungan logam Cd hanya terdeteksi pada stasiun 2 yaitu P1 0,0058 mg/kg. Kandungan logam Cu pada stasiun 1 yaitu P1 sebesar 0,0686 mg/kg dan P2 0,0541 mg/kg, pada stasiun 2 yaitu P1 0,1381 mg/kg dan P2 sebesar 0,0999 mg/kg, dan pada stasiun 3 yaitu P1 sebesar 0,1062 mg/kg dan P2 sebesar 0.022 mg/kg. Kandungan logam Zn pada stasiun 1 yaitu P1 3,4883 mg/kg dan P2 s 3,3229 mg/kg, pada stasiun 2 yaitu P1 sebesar 2,7643 dan P2 sebesar 2,6225 mg/kg, dan pada stasiun 3 yaitu P1 4,2511 mg/kg dan P2 2,8687 mg/kg. Batas maksimum berat daging kerang lokan yang boleh dikonsumsi untuk orang dewasa (50 kg bb) yaitu 0,131 kg daging per minggu.</p> Nabila Ukhty Hayatun Nufus Anhar Rozi Ikhsanul Khairi Copyright (c) 2020-04-30 2020-04-30 23 1 77 85 Sintesis Biokoagulan Berbasis Kitosan Limbah Sisik Ikan Bandeng dan Aplikasinya Terhadap Nilai BOD dan COD Limbah Tahu di Kota Tarakan http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi/article/view/30888 <p>Biokoagulan merupakan koagulan alami yang berperan untuk mengikat kotoran yang terdapatdi dalam limbah tahu. Sumber biokoagulan dapat berasal dari kitosan sisik ikan bandeng. Penelitian ini menentukan penurunan nilai BOD dan COD pada limbah tahu melalui biokoagulasi kitosan dari limbahsisik ikan bandeng. Metode yang digunakan dalam pembuatan kitosan melalui tahap deproteinasi (NaOH 0,1 N selama 2 jam pada suhu 65℃), demineralisasi (HCl 1 N selama 30 menit pada suhu ruang), dan deasetilasi (NaOH 20% selama 1 jam pada suhu 121℃). Karakteristik kitosan berupa derajat deasetilasi memiliki nilai 44%. Aplikasi kitosan sebagai biokoagulan dilakukan dengan prinsip koagulasi-flokulasi dengan penambahan larutan kitosan pada konsentrasi 10 ppm, 20 ppm, dan 30 ppm pada limbah tahu. Hasil penelitian menunjukkan adanya penurunan terhadap nilai BOD dan COD setelah penambahan kitosan 10 ppm, 20 ppm, dan 30 ppm. Perlakuan dengan penambahan kitosan 30 ppm merupakan perlakuan terbaik dengan nilai BOD yaitu 7 mg/L dan nilai COD yaitu 5600 mg/L.</p> Stephanie Bija Yulma Yulma Imra Imra Aldian Aldian Akbar Maulana Anhar Rozi Copyright (c) 2020-04-30 2020-04-30 23 1 86 92 Profil Protein Daging Ikan Kurisi Merah (Pagrus major) yang Diberi Pakan dengan Tambahan Tepung Daun Zaitun (Olea europaea L.) http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi/article/view/30890 <p>Pemberian pakan dengan tambahan antioksidan dari bahan alam terbukti mampu meningkatkan kualitas daging yang dihasilkan. Aktivitas antioksidan dari bahan alam ditentukan oleh kandungan polifenol. Daun zaitun mengandung 6-9% polifeneol. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh penambahan tepung daun zaitun pada pakan terhadap profil protein daging ikan yang dikultur selama 25 hari pada akuarium dengan kondisi yang terkontrol. Komposisi protein daging dianalisis dengan SDS-PAGE dan kandungan protein sarkoplasma, miofibril dan kolagen dianalisa dengan metode biuret. Kandungan protein sarkoplasma dan miofibril tidak berbeda pada kedua kelompok ikan, tetapi kandungan kolagen daging ikan yang diberi pakan dengan tepung daun zaitun 1,63 kali lebih tinggi dibanding ikan dengan pakan kontrol. Mikrostruktur daging ikan dengan pakan tepung daun zaitun lebih kompak dibanding ikan dengan pakan kontrol, hal tersebut disebabkan kandungan kolagen yang lebih tinggi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penambahan tepung daun zaitun pada pakan mampu meningkatkan tekstur pada daging melalui peningkatan kuantitas dan kualitas serat kolagen pada endomisium.</p> Muh Ali Arsyad Arham Rusli Copyright (c) 2020-04-30 2020-04-30 23 1 93 102 Teknik penanganan dan cemaran mikroba pada ikan layang segar di pasar tradisional Kota Ambon. http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi/article/view/30923 <p>Hasil perikanan merupakan produk yang mudah mengalami kebusukan, sehingga diperlukan teknik penanganan yang cermat dan tepat untuk mempertahankan mutunya. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan dampak penanganan ikan layang yang dijual di pasar. Ikan layang diambil secara acak di Pasar Arumbae dan Pasar Batu Merah Kota Ambon dua kali dalam sehari yakni pada waktu pagi dan waktu sore hari. Teknik penanganan ikan diamati pada saat distribusi dan penanganan di pasar yang meliputi pembersihan, penyimpanan, peletakan ikan serta pemberian es. Jumlah cemaran mikroba pada sampel dihitung menggunakan metode <em>total plate count</em> (TPC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah cemaran mikroba pada ikan yang diambil pada pagi hari lebih rendah dibandingkan pada ikan yang diambil pada sore hari. Teknik penanganan dan penjajakan ikan layang yang diterapkan oleh para pedagang di Pasar Arumbae dan Batu Merah belum diterapkan dengan baik dan belum memperhatikan sistem rantai dingin, sanitasi air, dan tempat penyimpanan ikan selama penjualan. Jumlah cemaran mikroba pada ikan layang segar di Pasar Arumbae dan Pasar Batu Merah pada pagi hari yakni 1,2x10⁴-2,6x10<sup>4</sup> CFU/g dan 1,5x10<sup>4</sup>-2,6x10<sup>4</sup> CFU/g sedangkan pada sore hari yaitu 2,4x10⁴-5,0x10<sup>5</sup> CFU/g dan 4,9x10<sup>4</sup>-4,6x10<sup>5</sup> CFU/g. Jumlah mikroba pada ikan layang segar di pasar tradisional Kota Ambon masih sesuai standar mutu mikrobiologi ikan segar yaitu maksimal 5x10⁵ CFU/g.</p> Edir Lokollo Meigy Nelce Mailoa Copyright (c) 2020-04-30 2020-04-30 23 1 103 111 Penanganan Ikan Cakalang oleh Nelayan Pole and Line http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi/article/view/30924 <p>Penanganan ikan segar merupakan bagian penting dari rantai pasokan industri perikanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penanganan dan penyimpanan ikan cakalang. Penelitian ini difokuskan pada kegiatan penangkapan pole and line untuk ikan cakalang di perairan Seram. Penelitian ini menggunakan teknik observasi lapangan dan uji organoleptik. Proses penanganan ikan di kapal menggunakan es balok dan air laut yang didinginkan terdiri atas penyortiran, pencucian, dan penirisan namun belum optimal. Fasilitas dan infrastruktur untuk penanganan ikan di pusat pendaratan juga tidak memadai, tidak ada tempat untuk melakukan beberapa pekerjaan yaitu penyortiran, pencucian, dan penirisan. Nilai organoleptik menurun dari 9,00 pada 0 jam menjadi 8,68 pada 12 jam, ketika ikan tiba di pusat pendaratan ikan. Peningkatan penanganan cakalang di kapal dan di pusat pendaratan ikan diperlukan untuk menjaga kualitas ikan dan mencegah kerusakan ikan</p> Christina Litaay Sugeng Hari Wisudo Hairati Arfah Copyright (c) 2020-04-30 2020-04-30 23 1 112 121 Penghambatan fraksi fukoidan rumput laut cokelat (Sargassum polycystum dan Turbinaria conoides) terhadap α-amilase dan α-glukosidase http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi/article/view/30925 <p>Fukoidan merupakan polisakarida tersulfat dalam rumput laut cokelat yang memiliki aktivitas biologis, di antaranya sebagai antidiabetes. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kemampuan fukoidan dari rumput laut cokelat (<em>Sargassum polycystum</em> dan <em>Turbinaria conoides</em>) sebagai antidiabetes, yaitu dalam menghambat aktivitas α-amilase dan α-glukosidase secara in vitro. Kemampuan penghambatan enzim dievaluasi dari ekstrak kasar fukoidan, hasil fraksinasi dengan membran ultrafiltrasi (10 dan 30 kDa), dan kromatografi filtrasi gel. Ekstrak kasar fukoidan (1 mg/mL) dari <em>S. polycystum</em> hasil ekstraksi asam, dan dari<em> T. conoides</em> hasil ekstraksi air menunjukkan aktivitas penghambatan terhadap α-amilase dan α-glukosidase yang tertinggi. Fraksi dengan berat molekul &gt;30 kDa hasil ultrafiltrasi ekstrak fukoidan dari<em> S. polycystum</em> dan<em> T. conoides</em> (pada konsentrasi 50 mg ekstrak/3,0 mL akuabides) menunjukkan aktivitas penghambatan yang rendah terhadap α-amilase (16,88% dan 9,67%), tetapi tinggi terhadap α-glukosidase (99,06% dan 65,97%). Fraksinasi dengan kromatografi filtrasi gel menunjukkan adanya senyawa aktif dalam fraksi fukoidan yang memiliki aktivitas penghambatan yang tinggi terhadap α-glukosidase, yaitu fraksi dengan berat molekul 30-70 kDa untuk S. polycystum dan &gt;70 kDa untuk<em> T. conoides</em>. Penelitian ini menunjukkan bahwa fraksi fukoidan dari <em>S. polycystum</em> dan <em>T. conoides</em> memiliki kemampuan penghambatan terutama terhadap α-amilase dan α-glukosidase, dan berpotensi sebagai antidiabetes.</p> Widya Puspantari Feri Kusnandar Hanifah Nuryani Lioe Noer Laily Copyright (c) 2020-04-30 2020-04-30 23 1 122 136 Kinerja membran komposit kitosan-karagenan pada sistem microbial fuel cell dalam menghasilkan biolistrik dari limbah pemindangan ikan http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi/article/view/30926 <p><em>Microbial fuel cell</em> (MFC) merupakan suatu teknologi yang memanfaatkan mikroba untuk mendegradasi bahan organik dan anorganik menjadi energi listrik, dapat dilakukan menggunakan sistem satu bejana atau dua bejana. Sistem MFC dua bejana menggunakan membran penukar proton yang berfungsi untuk mengalirkan proton yang dihasilkan dari ruang anoda ke ruang katoda, salah satu alternatif membran yang digunakan yaitu komposit kitosan-karagenan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan perbandingan komposit kitosan-karagenan sebagai membran penukar proton pada MFC, menentukan kinerja MFC dalam menghasilkan elektrisitas, serta menentukan kinerja penurunan beban polutan limbah cair pada MFC. Nilai elektrisitas MFC diukur menggunakan multimeter dengan parameter yang diuji adalah tegangan listrik, serta arus listrik. Parameter uji yang digunakan untuk mengukur penurunan beban polutan limbah cair adalah<em> chemical oxygen demand</em> (COD), <em>biologycal oxygen demand</em> (BOD) dan total amonia nitrogen (TAN). Membran komposit kitosan-karagenan dibuat dengan perlakuan perbedaan komposisi kitosan dan karagenan 1:1; 1,5:1; 3:1 (v/v). Perbedaan rasio kitosan dan karagenan pada membran komposit kitosan-karagenan memberikan pengaruh terhadap sifat mekanik membran, nilai elektrisitas MFC, serta beban polutan cair pada MFC. Membran komposit kitosan-karagenan dengan perbandingan 1:1 menghasilkan nilai konduktivitas proton tertinggi sebesar 1,15x10-3 S/cm, kuat tarik tertinggi 7,047 MPa, tegangan listrik 0,97 V, arus 7,02 mA, serta daya listrik 6,84 mW. Nilai COD, BOD, serta TAN limbah cair pemindangan ikan mengalami penurunan sebesar 90%, 76% dan 32%</p> Bustami Ibrahim Uju Agus Muhamad Soleh Copyright (c) 2020-04-30 2020-04-30 23 1 137 146 Komposisi kimia dan profil asam lemak ikan layur segar penyimpanan suhu dingin http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi/article/view/30927 <p>Ikan layur merupakan komoditas bahan baku ekspor bernilai ekonomis penting. Proses penyimpanan memengaruhi komposisi kimia ikan layur. Penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh penyimpanan dingin terhadap perubahan komposisi kimia dan profil asam lemak ikan layur (<em>Trichiurus</em> sp.). Prosedur penelitian yang dilakukan adalah penyimpanan pada suhu dingin 6-10°C selama 0 hari (H0) segar, 6 hari (H6) agak segar, dan 10 hari (H10) tidak segar. Ikan layur mengalami kenaikan kadar air dan lemak, sedangkan kadar protein dan kadar abu, mengalami perubahan. Hasil manunjukkan bahwa asam lemak secara umum tidak mengalami perubahan secara deskriptif selama penyimpanan dingin 10 hari. Ikan layur terdiri dari 24 jenis asam lemak yang terdiri dari 10 jenis SFA, 7 jenis MUFA, dan 7 jenis PUFA. Asam lemak tertinggi ikan layur yaitu DHA yaitu 24,01% (H0) dan 21,39% (H10).</p> Agoes Mardiono Jacoeb Nurjanah Taufik Hidayat Riyanda Perdiansyah Copyright (c) 2020-04-30 2020-04-30 23 1 147 157 Estimasi Stok Suplai Kebutuhan Bahan Baku untuk Industri Pengolahan Ikan http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/jphpi/article/view/30960 <p>Industri perikanan yang berdaya saing adalah industri perikanan yang mampu mendorong tumbuhnya sektor ekonomi perikanan dengan kemandirian bahan baku. Skema industri dengan<br>memperhatikan kekuatan stok bahan baku perlu dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kebutuhan bahan baku industri pengolahan serta proyeksi kebutuhan 2025 dari nilai pertumbuhan kebutuhan bahan baku industri pengolahan UMKM dan industri besar. Data dikumpulkan dari pengambilan sampel 2010-2015 dengan teknik purposive sampling yang mewakili provinsi dan jenis industri pengolahan.&nbsp; Data tahun 2015-2019 diperoleh dari data monitoring KKP dan laporan dari industri pengolahan. Data yang diperoleh dianalis dengan statistik inferensia dengan pemodelan dari pola distribusi data yang ada. Model distribusi data yang paling mendekati digunakan sebagai model proyeksi. Hasil kajian menunjukkan bahwa kebutuhan bahan baku ada kecenderungan selalu meningkat dengan pertumbuhan bahan baku 6,07% per tahun, pertumbuhan kebutuhan bahan baku industri tumbuh 2,25 persen pertahun dan UMKM 0,57% pertahun. Dari model proyeksi sampai 2025, maka kebutuhan bahan baku kekurangan 5,9 juta 2019 sampai 9,9 juta ton tahun 2025. Kekurangan mendorong tumbuhnya industri budidaya perikanan untuk memperkuat kebutuhan bahan baku pengolahan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kekurangan bahan baku dapat diatasi dengan produksi budidaya, perlunya mengembangkan pengolahan dengan jenis ikan bahan baku dari spesies yang berbeda, dan perlunya menyiapkan skema penguatan stok bahan baku melalui gudang pendingin untuk jangka panjang.</p> Yonvitner Yonvitner Mennofatria Boer Taryono Taryono Mochammad Riyanto Rahmat Kurnia Isdradjat Setyobudiandi Joko Santoso Nandi Sukri Kiagus Abdul Aziz Copyright (c) 2020-05-20 2020-05-20 23 1 158 165