http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/issue/feed Acta VETERINARIA Indonesiana 2020-03-11T02:15:54+07:00 Ridi Arif acta.vet.indones@gmail.com Open Journal Systems <p class="MsoNormal"><strong><img src="/public/site/images/adminactavet/Picture1.png" alt="" align="left">Acta VETERINARIA Indonesiana . Acta Vet Indones .&nbsp;The Indonesian Veterinary Journal</strong> is an open access, peer-reviewed, online journal that&nbsp;publishes articles in the form of research, reviews, case studies, and short communications relating to various aspects of science in veterinary, biomedical, animal husbandry, biotechnology, and biodiversity of fauna.</p> <p>Articles are written in Indonesian or English.</p> <p>Acta VETERINARIA Indonesiana is published by the Faculty of Veterinary Medicine of the Bogor Agricultural University (FKH IPB) in collaboration with the Indonesia Veterinary Medical Association (PDHI).</p> <p>This journal is published since 2013, published 2 (two) times in 1 (one) year, i.e. in January and July.</p> <p>P-ISSN 2337-3202, E-ISSN 2337-4373, Accreditation of "B" Kemenristekdikti No. 36a / E / KPT / 2016</p> http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/24444 Prevalensi Kecacingan pada Usus Ayam Kampung di Pasar Tradisional Jakarta dan Kota Bogor 2020-03-02T01:49:23+07:00 Suryaningtyas Kusumadewi suryaningtyas@gmail.com Risa Tiuria rtiuria@yahoo.com Ridi Arif ridiarif@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan mengukur prevalensi kecacingan di usus ayam kampung yang ada di pasar tradisional Jakarta dan Kota Bogor. Usus ayam kampung diambil dari 5 pasar yang ada di Jakarta (Bendungan Hilir, Palmerah, Pasar Minggu, Pluit, dan Jatinegara) dan di 4 pasar yang ada di Kota Bogor (Anyar, Bogor, Jambu Dua, Gunung Batu). Sampel yang diambil sebanyak 5 sampel di setiap pasar dengan total 45 sampel. Hasil penelitian menunjukkan 28 dari 45 sampel usus ayam kampung (Gallus domesticus) yang diperiksa di pasar tradisional Jakarta dan Bogor positif mengalami kecacingan. Hasil prevalensi menunjukkan pasar Jakarta sebesar 56% dan pasar Bogor sebesar 70%. Prevalensi berdasarkan jenis-jenis cacing di Pasar Jakarta adalah; Railletina echinobothrida (52%), Heterakis gallinnarum (32%), Railletina tetragona (24%), Hymenolepis carioca (16%), Ascaridia galli (16%), dan Hymenolepis cantaniana (4%). Prevalensi berdasarkan jenis-jenis cacing yang ditemukan di Pasar Bogor adalah Railletina echinobothrida (70%), Railletina tetragona (55%), Heterakis gallinarum (10%), Hymenolepis carioca (30%), Hymenolepis cantaniana (20%), dan Railletina cesticillus (20%).</p> 2020-01-31T00:00:00+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/15677 Efektivitas Herbal Cair Kombinasi Daun Pepaya dan Kelopak Bunga Rosella Sebagai Antihipertensi 2020-03-02T01:58:07+07:00 ERNI RUSTIANI e_rustiani@yahoo.com Moerfiah . e_rustiani@yahoo.com Pungky Umi Sa’diyah e_rustiani@yahoo.com <p>Hipertensi terjadi apabila tekanan darah sistol lebih dari 129 mmHg dan tekanan darah diastol lebih dari 90 mmHg. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian herbal cair kombinasi tersebut terhadap penurunan tekanan darah pada tikus putih jantan <em>Sprague-Dawley</em> yang diinduksi larutan NaCl 5%. Hewan uji yang digunakan terdiri dari 20 ekor tikus dengan bobot 200-300 gram dan dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan. Kelompok perlakuan terdiri dari dosis I (0,27 mL/200 gBB), dosis II (0,54 mL/200 gBB), kontrol positif I (obat herbal merk X 6,48 mg/200 gBB), kontrol positif II (kaptopril 1,35 mg/200 gBB) dan kelompok kontrol negatif yang hanya diberikan akuades. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat dinyatakan bahwa pemberian herbal cair dapat menurunkan tekanan darah pada tikus setelah 18 hari penggunaan. Dosis II (0,54 mL/200 gBB) merupakan dosis paling baik untuk menurunkan tekanan darah pada tikus putih jantan <em>Sprague-Dawley</em> dengan lama waktu pemberian paling baik untuk sistol pada hari ke-10 dan diastol hari ke-15.</p> 2020-01-31T09:54:42+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/17243 Performa Sapi Simmental yang Diberi Imbuhan Selenium dan Zink dalam Pakan 2020-03-02T07:08:08+07:00 Asep Kurnia asep_kurnia99@yahoo.com . Soeparna soeparnaprof@yahoo.com Iis Arifiantini iis_arifiantini@yahoo.com Rahmat Hidayat rahmat_1969@yahoo.com <p align="center">Manajemen pakan pejantan sapi sangat penting di Balai Inseminasi Buatan (BIB). Beberapa mineral dilaporkan sangat penting dalam proses reproduksi pejantan. Penelitian ini bertujuan untuk menguji performa sapi pejantan Simmental yang diberi imbuhan zink (Zn) dan Selenium (Se). Delapan belas ekor pejantan Simmental umur 7 tahun, milik BIB Lembang digunakan dalam penelitian ini. Pejantan dibagi tiga kelompok masing-masing 6 ekor. Kelompok I (R1) diberi pakan standar, kelompok II (R2) diberi pakan Standar dan imbuhan Zn dan Se minimal dan kelompok III (R3) diberi pakan Standar dan imbuhan Zn dan Se maksimal selama 60 hari. Parameter yang diukur adalah pertambahan berat badan harian (PBBH), pertumbuhan kuku dan libido. Data awal dan akhir penelitian dibandingkan dengan Student T test dan data disampaikan dalam rerata ±SEM. Hasil penelitian menunjukkan imbuhan Zn dan Se dapat mempertahankan berat badan sapi Simmental, dan tidak ada perbedaan PBBH antar pakan yang diberikan. Pertumbuhan kuku dan libido juga tidak dipengaruhi oleh mineral yang diberikan.</p> 2020-01-31T10:08:25+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/25152 Kajian Epidemiologi Infeksi Bovine Viral Diarrhea (BVD) pada Sapi Perah di Kabupaten Sleman Yogyakarta 2020-03-02T09:01:20+07:00 Roza Azizah Primatika roza.azizah@gmail.com Bambang - Sumiarto pbb@ugm.ac.id Yatri Drastini drastini@ugm.ac.id Dyah Ayu Widiasih dyahaw@ugm.ac.id <p>Sapi perah merupakan hewan ruminansia yang menghasilkan susu untuk konsumsi sehari hari masyarakat Indonesia karena mengandung sumber kalsium yang baik bagi tubuh. Namun, saat ini kendala yang dihadapi oleh peternak adalah menurunnya produksi susu sapi perah sehingga menyebabkan kerugian ekonomi yang cukup besar. Salah satu penyakit yang menyebabkan penurunan produksi susu pada sapi perah adalah Bovine Viral Diarrhea (BVD). Bovine Viral Diarrhea telah menyebar di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Pemerintah Indonesia belum menetapkan kebijakan vaksinasi BVD. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui seroprevalensi dan faktor resiko mengenai infeksi Bovine Viral Diarrhea (BVD) di tingkat peternak di Kabupaten Sleman Yogyakarta. Metode penelitian ini adalah dengan melakukan wawancara terhadap peternak melalui kuesioner dan metode sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah teknik sampling tahapan ganda serta dianalisis secara univariat dan bivariat. Sampel penelitian ini adalah 96 peternak terpilih yang memiliki sapi perah dan dilakukan pengujian Bovine Viral Diarrhea (BVD) dengan metode Enzyme-linked Immunosorbent Assay (ELISA) antibodi. Berdasarkan analisis univariat, diperoleh seroprevalensi penyakit BVD pada sapi perah sebesar 56,25%. Berdasarkan analisis bivariate, hasil yang diperoleh adalah tidak terdapat hubungan antara variabel yang diuji dengan adanya penyakit BVD pada sapi perah di Kabupaten Sleman, yang ditunjukkan dengan nilai p_value &gt; 0.05.</p> 2020-01-31T10:10:45+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/25816 Potensi Ekstrak Kulit Pisang Kepok (Musa paradisiaca forma typica) dan Uli (Musa paradisiaca sapientum) Menaikkan Aktivitas Superoksida Dismutase dan Menurunkan Kadar Malondialdehid Organ Hati Tikus Model Hiperkolesterolemia 2020-03-02T09:11:43+07:00 Azizatul Ulfa azizatululfa@gmail.com Damiana Rita Ekastuti damiana62@yahoo.com Tutik Wresdiyati tutikwr@gmail.com <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis potensi antioksidan kulit pisang kepok dan kulit pisang uli pada hati tikus hiperkolesterolemia. Kulit pisang kepok dan uli diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut air, etanol 70% dan etanol 96%. Ekstrak diuji fitokimia secara kualitatif. Ekstrak diuji aktivitas antioksidanya menggunakan metode DPPH. Ekstrak dengan nilai IC50 terendah dipilih untuk uji in vivo. Desain penelitian pada uji in vivo meliputi pencegahan dan pengobatan. Uji in vivo dilakukan dengan memberikan varian ekstrak kepada kelompok tikus percobaan. Parameter yang diamati adalah aktivitas SOD dan kadar MDA organ hati. Ekstrak kulit pisang kepok memiliki rendemen 17,97% (pelarut air), 17,18% (pelarut etanol 70%) dan 15,02% (pelarut etanol 96%). Ekstrak kulit pisang uli memiliki rendemen 33,04% (pelarut air), 27,2% (pelarut etanol 70%) dan 34,42% (pelarut etanol 96%). Ekstrak kulit pisang kepok dan uli pada berbagai pelarut memiliki karakteristik warna coklat. Semua ekstrak mengandung senyawa flavonoid. Saponin terdapat pada semua ekstrak kecuali ekstrak kulit pisang uli dengan pelarut etanol 96%. Triterpenoid hanya terkandung pada ekstrak kulit pisang kepok dengan pelarut etanol. Ekstrak kulit pisang kepok dengan pelarut etanol 70% memiliki nilai IC50 terendah (P&lt;0.01) dibandingkan dengan jenis ekstrak lainnya. Kelompok pencegahan dan kelompok pengobatan yang dicekok ekstrak etanol 70% kulit pisang kepok memiliki aktivitas SOD secara nyata lebih tinggi dan kadar MDA lebih rendah dibandingkan kelompok yang tidak dicekok ekstrak (P&lt;0,05). Ekstrak kulit pisang kepok dengan pelarut etanol 70% menunjukkan aktivitas antioksidan yang paling baik. Ekstrak etanol 70% kulit pisang kepok menaikkan aktivitas superoksida dismutase dan menurunkan kadar malondialdehid organ hati tikus percobaan model hiperkolesterolemia baik sebagai pencegahan maupun pengobatan.</p> 2020-02-03T01:53:48+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/26910 Resistensi Enterobacteriaceae Terhadap Antibiotik Asal Sisa Makanan dari Sampah Pesawat di Bandara Internasional Soekarno Hatta 2020-03-02T09:16:55+07:00 Julia Rosmaya Riasari julia.rosmaya@gmail.com Mirnawati Bachrun Sudarwanto mwanto47@hotmail.com Agustin Indrawati titin.seta@gmail.com Hadri Latif hadrilatif@gmail.com Navasuriya Radha Krisnan herwinpi@gmail.com Herwin Pisestiyani herwinpi@gmail.com <p>Sampah yang berasal dari pesawat internasional yang datang di Indonesia harus dimusnahkan tanpa kecuali dan berlaku untuk penerbangan dari negara manapun. Pemusnahan dilakukan untuk menghindari risiko penyebaran penyakit dari sampah yang dapat menyerang hewan, tumbuhan dan manusia. Aktivitas penumpang dari mancanegara, migrasi orang dan hewan dari satu negara ke negeri lain serta importasi makanan membuat bakteri yang terbawa masuk, termasuk bakteri yang resisten terhadap antibiotik dapat menyebar. Penelitian mengenai risiko masuknya bakteri resisten terhadap antibiotik melalui sampah pesawat belum pernah dilakukan. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keberadaan bakteri resisten terhadap antibiotik pada sisa makanan dari sampel sampah internasional yang diambil dari Terminal 2D BISH. Hasil penelitian yaitu dari 78 sampel yang berasal dari 24 pesawat dan 2 perusahaan penyedia makanan pesawat (in-flight catering), didapatkan 53 sampel (67,95%) positif Enterobacteriaceae. Hasil pengujian isolat resistensi Enterobacteriaceae terhadap antibiotik dalam sisa makanan penerbangan internasional menunjukkan tingkat resistensi yang cukup tinggi, yaitu: Nalidixic Acid (57%), Cefoxitin (32%), Ampicillin (26%), Amoxicillin (15%), Tetracycline (9%), Cefotaxime (5%), Kanamycin (3%), dan terendah adalah Sulfatrimethoprim (1%). Selain itu, bakteri Enterobactriaceae ini juga menunjukkan tingkat intermediate terhadap antibiotik Cefotaxime (37%), Cefoxitin (13%), Tetracycline (6%), Kanamycin (6%), Amoxicillin (4%), Nalidixic Acid (4%), Sulfatrimethoprim (2%), dan Ampicillin (0%).</p> 2020-01-31T10:12:21+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/29445 Toksisitas Akut Ekstrak Daun Miana (Coleus Blumei Benth) pada Mencit (Mus Musculus) 2020-03-02T09:23:05+07:00 Yusuf Ridwan kayatifarm@gmail.com Fadjar Satrija yusufridwan67@yahoo.com Ekowati Handharyani yusufridwan67@yahoo.com <p>Coleus blumei memiliki berbagai khasiat untuk mengobati berbagai macam penyakit termasuk kecacingan. Sampai saat ini belum diketahui tingkat dosis yang menyebabkan toksisitas bagi pemakainya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi toksisitas akut ekstrak etanol daun miana pada mencit. Pengujian toksisitas dilakukan pada mencit dengan pemberian per oral untuk menentukan toksisitas akut dan dosis letal 50% (LD50). Hasil penelitian menunjukkan ekstrak daun miana memiliki toksisitas yang rendah. Hasil analisis probit menunjukkan LD50 ekstrak etanol daun miana adalah 9757.14 mg/kg berat badan. Gejala klinis yang terlihat pada mencit sebelum mati adalah tidak aktif, lemah, ritme pernapasan menurun dan bulu berdiri. Pemeriksaan patologi anatomi menunjukkan perdarahan pada rongga perut ditemukan pada dosis 10000 mg/kg bb ekstrak etanol. Hasil pemeriksaan histopatologi menunjukkan adanya pembendungan, oedema, dilatasi tubuli pada organ ginjal. Degenerasi dan nekrosis ditemukan pada organ usus, hati dan ginjal yang meningkat seiring dengan peningkatan dosis ekstrak. Berdasarkan nilai LD50 ekstrak etanol daun miana termasuk dalam kategori toksik ringan. Walaupun termasuk dalam katagori toksik ringan, akan tetapi mulai pada dosis 4000 mg/kg bb ekstrak daun miana menyebabkan degenerasi dan nekrosa sel pada organ usus, hati, dan ginjal.</p> 2020-02-03T08:20:45+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/30006 Sampul luar, sampul dalam, dan daftar isi Vol 8 No 1 (Januari 2020) 2020-03-11T02:15:54+07:00 Acta Vet Indones acta.vet.indones@gmail.com <p>Pengantar Redaksi</p> 2020-03-11T02:15:54+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana http://dthh.journal.ipb.ac.id/index.php/actavetindones/article/view/15777 Combination of Systemic and Topical Treatment for Feline Dermatophytosis: A Case Report 2020-03-02T02:17:23+07:00 Soedarmanto Indarjulianto indarjulianto@yahoo.com Yanuartono Yanuartono yanuartono20@yahoo.com Alfarisa Nururrozi alfarisa.nururrozi@gmail.com Slamet Raharjo raharjo_vet@yahoo.com Jeffi Chandra Ajiguna jeffi_ugm@yahoo.com <p>Dermatophytoses or ringworm are the most common fungal infections in dogs and cats. This zoonotic disease is called dermatophytosis. A 2 years old male Persian cat referred to the Veterinary Clinic Faculty of Veterinary medicine, Universitas Gadjah Mada with multi-focal circular non-pruritic skin lesions and hair loss mainly on the head and ears. A complete series of dermatologic tests such as Wood’s light examination, direct microscopic examination, and fungal culture were performed. The cat was treated with itraconazole dosage orally for a period of 20 days and ketoconazole topical for 35 days, respectively. Thirty five days after treatments the cat showed reduction of lesions.</p> 2020-01-31T10:01:57+07:00 Copyright (c) 2020 Acta VETERINARIA Indonesiana